<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181</id><updated>2012-02-16T21:28:28.592+05:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Pemikiran'/><category term='opini'/><category term='Wacana'/><title type='text'>titian ilmu</title><subtitle type='html'>Berilah sesuatu kepada orang lain selagi kamu masih bisa memberi..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-3019765620700317534</id><published>2008-05-16T00:16:00.007+05:00</published><updated>2008-05-16T00:34:27.655+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>Figur Ideal Sepanjang Zaman</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;(Respon modernitas dan krisis keteladanan) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh : M. Ihsanuddin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prolog &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (الأحزاب21)&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (Al-Ahzab : 21)&lt;br /&gt;Dalam era globalisasi sekarang ini, krisis multidimensi masih tetap menjangkiti masyarakat, selain krisis pangan yang melanda negara-negara dunia ketiga dengan terjadinya inflasi harga bahan pokok, minyak dunia, juga krisis kepemimpinan (figur umat) yang bisa memberi teladan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam hubungan vertikal (Sang Kholiq-Allah Swt-) maupun hubungan horizontal (antar sesama manusia).&lt;br /&gt;Realitas umat di abad 21 berbeda jauh dengan konteks sosio kultur &amp;amp; politik umat di abad sebelum 20 masehi. Semakin jauh umat (baca: Islam) dengan zaman Kenabian Muhammad SAW, semakin terkikislah values yang terkandung dalam jiwa dan kepribadian-Nya. Siroh Nabawiyah yang merupakan bagian dari manifestasi Syariat dan ajaran Islam, oleh sebagian umat dianggap sudah tidak relevan untuk dijadikan standar pijakan dalam berbagai aspek kehidupan umat dewasa ini. Opini seperti ini, telah menjiwai sebagian besar umat sebagai dampak gencarnya arus globalisasi, teknologi, trend modernitas, dan life style, yang semua itu bersumber dari kehidupan barat yang materialistis liberalistis. Umat dimanjakan dengan berbagai macam kemajuan teknologi dan kecanggihan komunikasi, cenderung terlena dengan buain kemodernan, hedonitas, materialistis, glamournya kehidupan dengan fasilitas kemewahan dunia yang fana'. Disegi lain, tingkat kemiskinan yang semakin memprihatinkan, nilai-nilai spiritualitas agama mulai terdegradasi, dekadensi moral yang tak terelakkan lagi, ini berimplikasi pada kebutuhan masyarakat yang sangat urgen untuk mencari figur pemimpin umat yang bisa meneladani Nabi Muhammad SAW dari segala aspek kehidupan, mulai dari sifat-sifat yang dimiliki-Nya, akhlaq yang mulia, kapasitas dan kapabilitas dalam berdakwah serta berdiplomasi antar pemimpin negara dan umat beragama.&lt;br /&gt;Secara kontekstual, kemajuan zaman dan peradaban manusia telah mereduksi nilai-nilai spiritualitas yang bersumber dari Islam atas tuntunan Nabi Muhammad SAW. Padahal secara historis, Islam sendiri mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam sejarah peradaban manusia. Islam telah merevolusi tatanan kehidupan Jahiliyah menuju tatanan kehidupan masyarakat madani (Al-Baqarah 143). Disinilah perlunya revitalisasi dan reposisi ajaran dan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW sebagai figur dan suri teladan untuk dijiwai dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Memang pada kenyataannya, problematika umat tidak terlepas dari konteks sosio kultur masyarakat itu sendiri. Sedangkan sosio kultur masyarakat merupakan produk interaksi antara tren budaya global yang selalu berkembang dan berubah vis a vis dengan tatanan kehidupan yang paten, yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Rosulullah SAW. Ini berimplikasi pada ambiguitas umat, juga sebagai tantangan dan ujian kecerdasan umat untuk bisa kontinyu dan istiqomah dalam memposisikan dirinya dalam mengikuti ajaran dan sunnah Rosulullah SAW di tengah percaturan dunia global. Umat dituntut untuk tidak tereliminasi dan terseret dalam arus trend budaya relativisme modernisme yang fana' sebagai pemuas jiwa yang hampa nur Ilahi.&lt;br /&gt;Relasi antara modernitas dan kemajuan teknologi dengan ajaran Ilahi dan Sunnah Nabawiyah, mempunyai dua sisi yang saling mempengaruhi, di satu sisi modernitas dan kemajuan teknologi sebagai support dan penopang dalam menjalankannya, di sisi yang lain sebagai ancaman dan tantangan yang bisa mereduksi dan mendekonstruksi tatanan nilai-nilai Islam. Namun demikian, umat lebih silau dengan konteks tuntutan zaman yang lebih mengedepankan rasionalistis materialistis ketimbang tunduk dan patuh pada ajaran Ilahi dan Rosulullah SAW. Dengan melihat realitas tersebut, tidak dipungkiri bahwa dalam rangka membangun bangsa dan negara, demi tegaknya agama (baca:Islam) dan kemaslahatan umat, sangat dibutuhkan figur pemimpin perfeksionis layaknya Rosululloh tersebut, tidak berarti harus sama persis semua apa yang dhahir maupun yang batin dari perbuatan, perkataan, serta keputusan-Nya untuk dijadikan dalil, karena kepribadian Rosulullah yang termanifestasikan dalam bentuk Hadits mempunyai banyak tingkatan, diantaranya shahih, hasan, maqbul, dhoif dan sebagainya. Juga ada beberapa hal ghoiru masyru' (tidak disyariatkan) untuk tidak diteladani, akan tetapi hanya dikhususkan untuk Rosulullah SAW. Maka sangat dibutuhkan verifikasi Hadits yang valid supaya umat terhindar dari hal-hal yang tidak disyariatkan, seperti takhayul, bid'ah dan khurafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemimpin Agama, Politik &amp;amp; Militer. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mereview kembali jejak kehidupan Rosulullah SAW, memang Beliau sejak kecil hidup dalam kesusahan dan penderitaan. Di lahirkan dalam keadaan yatim, menjadi yatim piatu pada umur 6 tahun, kemudian diasuh kakeknya Abdul Mutholib, sambil menggembala kambing. Hingga umur 12 tahun kakeknya wafat, kemudian diasuh oleh pamannya Abu Tholib, hingga dewasa. Ketika diasuh Abu Tholib diajak berdagang ke negeri Syam. Disaat itulah dia diketemukan dengan Siti Khadijah, seorang janda kaya raya yang akhirnya menjadi Istri Rosul SAW yang pertama, ketika itu usianya 25 tahun. Disamping itu, beliau sudah bisa memimpin para pemimpin-pemimpin kabilah dalam peristiwa peletakan hajar aswad. Ketika umur 40 tahun, Beliau diangkat sebagai Nabi dan Rosul akhir zaman, penyempurna risalah para Nabi dan Rosul sebelumnya.&lt;br /&gt;Michael H. Hart seorang non muslim yang menempatkan urutan pertama Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah. Di dalam bukunya "Seratus Tokoh Orang yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah", menyatakan bahwa pengaruh Rosul SAW tampak pada keabadian ajaran agama yang dibawanya. Empat belas abad setelah wafatnya, ajaran Islam masih tetap eksis dan melekat di lubuk sanubari para pengikutnya. Di samping itu, Ia sebagai pemimpin umat, baik pemimpin agama (hal-hal yang bersifat teologis) maupun pemimpin dunia (hal-hal yang bersifat duniawi seperti ekonomi, politik dan militer). Juga tidak ada dikotomi dalam kepemimpinannya. Terbukti selain berdakwah menyebarkan ajaran Islam, beliau memperluas wilayah kekuasaannya hingga terbentang luas dari Maroko hingga Merauke. Disamping itu, mayoritas yang mendiami wilayah itu, memposisikan Nabi Muhammad SAW sebagai sentral figur dan panutan, dengan tetap berpedoman pada dua warisannya, yaitu Al-Quran dan Al-Hadits, serta tetap mempunyai sentral kiblat ke Ka'bah Baitullah di Mekkah Al-Mukarramah. Sedangkan Nabi Isa oleh Michael H. Hart ditempatkan pada urutan ketiga setelah Issac Newton, dia mengatakan walaupun pengikut Nabi Isa (umat nasrani) dua kali lipat lebih banyak dari Umat Islam, tapi saat sekarang ini, tidak ditemukan kitab Injil ataupun ajaran-ajaran Nabi Isa yang murni. Semuanya sudah menyimpang dari aslinya. Sedangkan ajaran-ajaran Islam tetap murni, Al-quran tetap seperti aslinya, terjaga dari penyimpangan dan perubahan, baik dari segi mushaf tulisannya maupun penafsirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Black Opinion terhadap Rosululllah SAW&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejak kecil Nabi SAW tidak sepi dari celaan dan hinaan serta tantangan yang cukup berat dalam perjalanan hidup dan dakwah risalah kenabian-Nya. Ketika mulai berdakwah, Celaan tersebut datang dari para kafir Quraisy yang tidak rela datangnya revolusi tradisi, dogma, dan keyakinan yang akan merubah keyakinan bangsa Arab tersebut. Maka Rosulullah SAW dalam berdakwah mempunyai tahapan-tahapan yang harus ditempuhnya, setidaknya ada empat tahapan, pertama dakwah sirriyah dengan sembunyi-sembunyi, kedua dakwah jahriyah (dengan terang-terangan, menggunakan lisan tanpa peperangan), ketiga dakwah terang-terangan dengan memerangi orang-orang yang menyerang dan memulai peperangan, keempat dakwah terang-terangan dengan memerangi setiap orang yang menghalangi jalannya dakwah atau menghalangi orang yang masuk Islam.&lt;br /&gt;Adapun musuh-musuh Islam – mulai dari kaum kafir Quraisy, para misionaris, Orientalis, Yahudi, antek-antek mereka hingga kaum atheis - yang tidak rela kejayaan Islam dan umatnya di muka bumi ini, selalu mengecam, mengancam, menyerang, dan menjelekkan citra Rosulullah SAW dari berbagai sisi kehidupannya, diantaranya Rosulullah diklaim sebagai sebagai seorang seks mania yang tenggelam dalam kelezatan jasadiyah karena mempunyai sembilan istri, sebagai dalang pemicu permusuhan umat dan bangsa karena mereka menganggap Islamlah yang mengotak-kotakkan manusia dalam berbagai bentuk, antara mukmin dan kafir hingga timbulnya clash civilization, juga diklaim sebagai panglima kejahatan perang karena menyebarkan ajarannya dengan pedang, dikarikaturkan dengan memakai sorban dan membawa bom, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Pada hakekatnya, dibalik semua perjalanan hidup Rosulullah SAW mengandung hikmah yang berdasarkan nushush sebagai dalil atas segala tindakan, perkataan, dan ketetapan Rosulullah SAW. Seperti Rosulullah mempunyai 9 istri tidak lain untuk kepentingan dakwah Islam dan merupakan bagian dari sejarah tasyri íslami, yang ini hanya dikhususkan untuk Rosulullah SAW, bukan untuk umatnya (al-Ahzab : 50). Sedangkan klaim Nabi SAW sebagai dalang timbulnya permusuhan dan peperangan, ini pemahaman yang keliru tentang Islam dan dakwahnya, padahal Rosulullah sebagai pembawa kabar gembira bagi umat manusia, serta Islam sebagai agama yang membawa ideologi yang lurus untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan akherat, disebarkan dengan kedamaian dan keluwesan, tanpa ada paksaan (Al-Kahfi : 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Epilog &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh SAW sebagai Nabi akhir zaman, penyempurna ajaran-ajaran Nabi sebelumnya, mempunyai peranan dan pengaruh yang sangat penting dalam terbentuknya peradaban Islam. Disamping sebagai pemimpin Agama, juga menjadi pemimpin politik dan militer. Namun demikian, para misionaris, orientalis, atheis, yahudi dan para antek-anteknya tidak segan-segan menghujat eksistensi kenabian dari segala sisi kehidupannya. Mereka tidak rela kejayaan Islam dan umatnya dengan mengadakan kajian tentang Islam dan Rosulullah SAW yang tidak obyektif, penuh dengan kesubyektifitasan untuk mereduksi nilai-nilai Islam. Maka seyogyanya sebagai umat Islam tetap istiqomah dalam meneladani ajaran-ajaran yang telah dibawanya, juga merevitalisasikan dan mereposisikan A-Quran dan Sunnah Rosulullah SAW sebagai pedoman hidup dan sekaligus sebagai filter terhadap arus globalisasi dan tren budaya global yang sedang berkembang di masyarakat. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-3019765620700317534?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/3019765620700317534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=3019765620700317534&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/3019765620700317534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/3019765620700317534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/05/sosok-manusia-ideal-sepanjang-zaman.html' title='Figur Ideal Sepanjang Zaman'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-1104904128575694168</id><published>2008-04-04T18:21:00.011+05:00</published><updated>2008-04-04T20:08:43.937+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>"Fitna" &amp; Radikalisme Barat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_ZD0wZzrOI/AAAAAAAAACk/UekIHz6TnG8/s1600-h/5CAQ56P6LCA7ZOOV8CAM2UFQZCANA00Y5CARSY8IVCA0ZUT54CAWJSUQVCAJ2FIY2CAP27HKRCACJ0OA0CAQ9GYYTCA0X78MZCACBICBFCABY7SNACAJS6D5MCAPRR4XQCA1WSVVZCA7IRDMUCAC91WPP.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185406594589109474" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_ZD0wZzrOI/AAAAAAAAACk/UekIHz6TnG8/s200/5CAQ56P6LCA7ZOOV8CAM2UFQZCANA00Y5CARSY8IVCA0ZUT54CAWJSUQVCAJ2FIY2CAP27HKRCACJ0OA0CAQ9GYYTCA0X78MZCACBICBFCABY7SNACAJS6D5MCAPRR4XQCA1WSVVZCA7IRDMUCAC91WPP.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_ZDfwZzrNI/AAAAAAAAACc/OA5C2hYPNmk/s1600-h/5CAQ56P6LCA7ZOOV8CAM2UFQZCANA00Y5CARSY8IVCA0ZUT54CAWJSUQVCAJ2FIY2CAP27HKRCACJ0OA0CAQ9GYYTCA0X78MZCACBICBFCABY7SNACAJS6D5MCAPRR4XQCA1WSVVZCA7IRDMUCAC91WPP.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185406014768524482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_ZDTAZzrMI/AAAAAAAAACU/xkd_iWqk92c/s200/dodol+goreng.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Oleh : M.Ihsanuddin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sejak zaman Rosulullah SAW hingga sekarang, Black Campaign terhadap Islam tidak kunjung henti. Memang selamanya Yahudi dan Nasrani tidak akan rela melihat Islam berkembang di dunia ini, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :&lt;br /&gt;"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah : 120).&lt;br /&gt;Fenomena demi fenomena telah berlalu mengukir sejarah perjalanan Islam dan umat-Nya. Terutama di era abad 21 ini, berawal dari peristiwa 11 September 2001, Presiden AS George W. Bush menabuh genderang perang salib, sebagai istilah yang pernah Bush ungkapkan untuk memerangi terorisme. Dengan istilah tersebut secara tidak langsung mengklaim Islam-lebih khususnya Al-Qaeda yang dipimpin Osama bin Laden- sebagai dalang di balik peristiwa tersebut, hingga dijadikan hujjah untuk menyerang Afghanistan. Meski banyak petunjuk yang mengarah kepada keterlibatan dinas intelijen AS atau Israel dalam serangan 11 September, namun Gedung Putih sudah terlanjur menjustifikasi orang Islam sebagai pelakunya. Maka usaha Bush tersebut berhasil dengan membentuk opini publik, bahwa Islam sebagai agama teroris, radikal, intoleran, musuh kebebasan, anti kedamaian, pemicu kekerasan dan peperangan. Pemimpin evangelist di AS Pat Robertson menganggap Muslim jauh lebih buruk dari pada orang-orang Nazi. Sedangkan Reverend Richard Cizik, wakil presiden National Association of Evangelicals menyatakan bahwa para evangelist telah memilih Islam sebagai pengganti Uni Soviet untuk menjadi musuh mereka.&lt;br /&gt;Berawal dari opini tersebut, mereka melegalkan perang melawan terorisme sebagai salah satu senjata yang ampuh untuk memerangi Islam. Dari situ berlanjut hancurnya negara Afghanistan, disusul negara Irak. Padahal Irak merupakan pusat munculnya peradaban Islam. Banyak ulama Islam berasal dari negeri seribu satu malam tersebut. Baghdad dan Kufah yang dulunya sebagai pusat kajian Al-Quran &amp;amp; Al-Hadits, sekarang telah dikuasai dan di dominasi oleh antek-antek AS. Konflik Sunni-Syiah dipolitisasi Barat, hingga sekarang konflik sektarian tersebut menjadi senjata untuk meligitimasi dan menjustifikasi atas intervensi dan penguasaannya terhadap negara tersebut.&lt;br /&gt;Islam dimata Barat selalu dimarginalkan, juga tidak lain hanyalah agama yang penuh dengan doktrin kekerasan, diskriminasi gender, dan tidak humanis. Islam berkembang dengan pedang dan peperangan sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa Arab. Mereka mengklaim bahwa doktrin tersebut berasal dari Al-Quran, sedangkan Al-Quran sebagai produk budaya bangsa Arab yang tidak ada kesakralan di dalam-Nya, yang memiliki multi interpretasi sesuai dengan penafsir dan kontekstual sekarang.&lt;br /&gt;Demikian itu tergambar di benak Geert Wilders, seorang politikus partai pembebasan yang merilis film "Fitna". Tampak pada filmnya kebencian terhadap Islam dengan mengidentikkannya sebagai agama kekerasan. Sebagaimana skenario alur dokumen-dokumen yang ditampilkan, dibuka dengan gambar sebuah kitab Alquran. Selanjutnya, gambar kartun Nabi yang bersorban bom, dimuat pembacaan ayat Al-Quran sebanyak 5 kali, al-Anfal:60, An-Nisa':56, Muhammad:4, An-Nisa:89, dan Al-Anfal:39. Disela-sela pembacaan ayat-ayat tersebut, ditampilkan rekaman-rekaman peristiwa, mulai dari hancurnya WTC di New York, 11 September 2001, peristiwa bom di Madrid, Maret 2004, dan bom di London, Juli 2005. Disusul pidato tokoh-tokoh Islam, juga ditampilkan Muslim di berbagai negara yang berdemonstrasi dengan membawa poster-poster yang bertuliskan Jihad Against European Crusaders, Islam Will Dominate the World, Freedom Go to Hell, dan God Bless Hitler. Juga nampak gambar Theo Van Gogh-seorang Belanda sutradara film Submission yang dibunuh pada 2004; kemudian statistik perkembangan Muslim di Belanda; mayat-mayat bergelimpangan; orang dipenggal; kliping media massa yang disorot judul-judulnya; hingga wawancara gadis kecil berkerudung yang berkomentar benci terhadap Israel. Film itu diakhiri dengan kesimpulan ''Stop Islamisasi Barat, Bela Kebebasan Kita.'' Dan menyobek lembaran Mushaf Al-Quran dengan menganggapnya layaknya buku biasa. Selain itu, dia mengklaim Alquran merupakan kitab yang fasis dan Islam tidak cocok dengan demokrasi. Alquran tak ubahnya Mein Kampf-nya Hitler yang menghasut dan melakukan kebencian dan pembunuhan. Sedangkan Rosul SAW tak lain hanyalah seorang Teroris. Inilah sebuah karya non muslim yang menyakitkan hati umat Islam sedunia dengan pelecehan dan penghinaan Islam, Nabi Muhammad SAW dan Al-Quran.&lt;br /&gt;Memang Wilders sengaja dengan merilis film tersebut akan mendapat kecaman dari berbagai pihak, maka sudah semestinya mulai dari negara-negara muslim, sekjen PBB, OKI, Komisi Dewan HAM, Uni Eropa dan pemerintah Belanda mengecam tindakan Wilders tersebut. Film propaganda tersebut merupakan salah folllow up dari rentetan kampanye atas kebenciannya terhadap Islam. Dia mengalami Islamophobia dengan melihat statistik perkembangan Islam di Barat terutama di AS dan Belanda yang mengalami peningkatan yang signifikan setelah terjadinya peristiwa 11 september 2001. Terbukti di Belanda, 2 orang muslim telah menduduki jabatan menteri. Wilders yang akrab dengan tokoh-tokoh Yahudi; Ariel Sharon, Ehud Olmert dan Mossad, berasumsi bahwa tindakannya merupakan bagian dari freedom expression, ketika ini ditentang dan dikecam berarti menentang kebebasan berekspresi. Di samping itu, dia ingin mengkampanyekan gerakan pembebasan dengan tidak ada diskriminasi gender, keterpasungan ide dan gagasan.&lt;br /&gt;Dengan pandangan dan pemahaman seorang yang mempunyai background kristen konservatif terhadap Islam yang diungkapkan dalam bentuk film tersebut, memiliki subyektifitas yang tinggi, bersifat pelecehan, penghinaan, distortif, sangat intoleran, provokatif untuk menimbulkan tindakan-tindakan anarkhis. Inilah bagian dari karakteristik radikalisme Barat. Karakteristik ini berangkat dari opini publik yang kontradiktif dengan nilai-nilai universalitas Islam. Obyektifitas kebenaran tidak hanya dilihat dari sudut pandang kontekstual, yang hanya mengedepankan realitas dari sebagian individu muslim. Islam tidak bisa direpresentasikan dengan seorang individu tertentu, karena belum tentu individu tersebut memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam secara komprehensif. Padahal hakekat nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits telah terjamin kebenarannya sebagai rahmatan lil 'alamiin. Nilai-nilai universalitas Islam tercermin dalam bentuk keadilan, toleransi, kedamaian, keseimbangan, kelembutan, keramahan, keluwesan, kemudahan, kebebasan, dan sebagainya. Maka ketika Islam dipahami secara parsial, berdampak pada tereduksinya nilai-nilai Islam dan terbentuknya opini publik ataupun imej negatif terhadap Islam.&lt;br /&gt;Reaksi Umat Islam dalam merespon tindakan tersebut, bersifat ilegan, dengan tuntutan pemberian sanksi kepada Wilders dengan jalur resmi, baik melalui Mahkamah Internasional, maupun sesuai dengan hukum yang berlaku di negeri Belanda. Selain itu, sebagian umat Islam melakukan aksi pemboikotan terhadap produk-produk Belanda. Dengan reaksi seperti itu, diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap dakwah Islam dan juga bisa menjustifikasi kemurniaan nilai-nilai Islam. wallahu a'lam bisshowab.&lt;br /&gt;(Diambil dari berbagai sumber)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-1104904128575694168?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/1104904128575694168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=1104904128575694168&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/1104904128575694168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/1104904128575694168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/04/fitna-radikalisme-barat.html' title='&quot;Fitna&quot; &amp; Radikalisme Barat'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_ZD0wZzrOI/AAAAAAAAACk/UekIHz6TnG8/s72-c/5CAQ56P6LCA7ZOOV8CAM2UFQZCANA00Y5CARSY8IVCA0ZUT54CAWJSUQVCAJ2FIY2CAP27HKRCACJ0OA0CAQ9GYYTCA0X78MZCACBICBFCABY7SNACAJS6D5MCAPRR4XQCA1WSVVZCA7IRDMUCAC91WPP.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-3586392112469723396</id><published>2008-04-04T18:21:00.003+05:00</published><updated>2008-04-04T19:08:54.331+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Hegemoni Barat Terhadap Dunia Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_Y1qwZzrJI/AAAAAAAAAB8/TDqfLYoHlXM/s1600-h/QCAJB04N1CAMCIIM3CAEVKQ1WCAK00QVBCATV1V6HCA8R0QN8CAHV6SHUCAREUHZPCAAABS03CAK7CN26CA00I23WCA2DPIMQCAZB5PE7CA6RE0UXCA7DG14QCAXI1BCDCAJ29TK1CA70BJUDCA2ZS3MI.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185391029627628690" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_Y1qwZzrJI/AAAAAAAAAB8/TDqfLYoHlXM/s200/QCAJB04N1CAMCIIM3CAEVKQ1WCAK00QVBCATV1V6HCA8R0QN8CAHV6SHUCAREUHZPCAAABS03CAK7CN26CA00I23WCA2DPIMQCAZB5PE7CA6RE0UXCA7DG14QCAXI1BCDCAJ29TK1CA70BJUDCA2ZS3MI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_Y1SwZzrII/AAAAAAAAAB0/NtNS_D56ah8/s1600-h/OCABIXVQPCATHN10FCAFE0GJ9CA96PF59CAX4224FCAO6H6RICAKLT7L8CALNZDNLCASUAWCLCAZ611OTCA9YJMWSCA1ECFE3CALIY093CAQC3BTDCASZ9C7QCAYN5I1VCADAOM2ECA9R1YORCAH6Z9F4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185390617310768258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_Y1SwZzrII/AAAAAAAAAB0/NtNS_D56ah8/s200/OCABIXVQPCATHN10FCAFE0GJ9CA96PF59CAX4224FCAO6H6RICAKLT7L8CALNZDNLCASUAWCLCAZ611OTCA9YJMWSCA1ECFE3CALIY093CAQC3BTDCASZ9C7QCAYN5I1VCADAOM2ECA9R1YORCAH6Z9F4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : M. Ihsanuddin&lt;br /&gt;Semakin maju budaya dan peradaban suatu bangsa, maka bangsa tersebut akan menjadi panutan dan penguasa dunia। Itulah realitas perkembangan dunia global sekarang ini। Diakui atau tidak, dalam perkembangan negara-negara di dunia sekarang, telah terpolarisasi sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi, kemakmuran bangsa dan peradabannya। Namun demikian, yang tidak kalah pentingnya adanya skenario dan sutradara global yang ingin mengatur semua bangsa dan negara tunduk dan patuh terhadap ideologi gobal, tren kapitalisme sekuler dan liberalisme। Negara-negara yang kecil dan berkembang, kebanyakan hanya mengikuti trend global dan kebijakan-kebijakan negara-negara kaya &amp;amp; penguasa।&lt;br /&gt;Memang tidak bisa dipungkiri, kemajuan peradaban dan teknologi dimiliki oleh negara-negara maju. Kebanyakan mereka adalah negara-negara barat yang notabene yahudi, nasrani dan ateis. Mayoritas mereka juga sebagai pemegang kendali kebijakan-kebijakan PBB. Disadari maupun tidak, negara-negara miskin dan berkembang, yang mayoritas negara muslim secara tidak langsung telah terperangkap konspirasi global di bawah tekanan mereka. Ini terbukti dari realitas ideologi maupun sistem, baik politik, ekonomi, sosial, dan budaya. yang kesemuanya itu telah mengalami transformasi dan akulturasi hingga dianut dan diaplikasikannya dalam setiap negara-negara muslim khususnya.&lt;br /&gt;Dari sini terjadilah suatu hegemoni barat terhadap dunia Islam. Pada hakekatnya masing-masing memiliki ideologi dan identitas yang harus dibela dan dipertahankan. Akan tetapi dengan melihat historis peradaban dunia, terjadi persaingan antar budaya dan peradaban satu dengan lainnya untuk mencapai kemodernan. Hingga saat sekarang ini belum ada penyatuan peradaban dunia, hanya saja terjadi akulturasi dan transformasi diselingi dengan clash yang selalu memicu timbulnya konflik dan semakin menambah cengkeraman wajah neo kolonialisme di negara-negara muslim. Dengan demikian, teori yang telah dikemukakan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya "Clash of Civilization" sesuai dengan konteks historis peradaban dunia. Ini berdampak pada gagalnya teori Fukuyama "the end of History" penyatuan ideologi dengan segala aspeknya. Namun, pengaruh hegemoni barat terhadap dunia Islam, kian terasa dan nampak terutama dalam konteks kehidupan masyarakat muslim yang bersifat inferior terhadap segala produk barat. Mulai dari sistem pola pikir, sistem dan konsep ilmu pengetahuan, sistem politik, pendidikan, budaya, teknologi, ekonomi, dan sosial. Sikap superioritas negara maju telah mewarnai dan mengelabuinya.&lt;br /&gt;Berbagai macam fenomena telah membuktikannya, tahta peradaban dan dunia Islam sebagai rival sekaligus obyek arogansi dan kebiadaban negara-negara penguasa. Diantara fenomena-fenomena yang telah dialami oleh umat Islam, mulai dari Perang Melawan Terorisme sejak 9/11 tahun 2001, invasi AS ke Afghanistan tahun 2002, invasi AS ke Irak tahun 2003, termasuk kasus kartun Nabi di koran Jylland Posten Denmark, dan pidato Paus Benedictus XVI di Jerman yang menghina Nabi Muhamad, adalah babak baru dalam benturan Islam dan Barat.&lt;br /&gt;Juga muncul fenomena terbaru akhir-akhir ini dengan dikeluarkan resolusi Embargo PBB terhadap Iran berkenaan dengan kepemilikan energi nuklir. Padahal energi nuklir Iran tidak difungsikan sebagai senjata pemusnah masal yang mengancam perdamaian dunia. IAEA (International Atomic Energy Agency) juga tidak menemukan dan membuktikan penyimpangan dengan penggunaan energi nuklirnya. Maka Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad sangat menyayangkan kebijakan PBB yang arogan tersebut. Malah dengan kebijakan seperti itu, menurunkan kredibilitasnya, dan terkesan memihak salah satu kelompok negara adikuasa. Ahmadinejad juga mengatakan tidak adanya keadilan dalam diri PBB, terbukti pembantaian muslim Palestina oleh Israel malah dilegalkan, tidak ada kebijakan ataupun sangsi terhadap negara Yahudi Israel tersebut. Di lain pihak, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Siti Fadilah Supari, merasa dilecehkan dengan birokrasi WHO. Ia menentang keras mekanisme yang dikembangkan WHO yang selama ini menindas negara-negara dunia ketiga. Mekanisme itu mengharuskan setiap negara mengirimkan virusnya ke WHO dengan tanpa mengetahui apa yang akan diperbuat dengan virus-virus itu. Belakangan terbongkar bahwa virus itu ternyata dijual kepada perusahaan-perusahaan vaksin di negara maju. Negara pengirim tak dapat kompensasi apa-apa bahkan harus membeli vaksin dengan harga yang sangat mahal. Ia merasa melihat adanya ketidakadilan yang ditunjukkan oleh lembaga besar kesehatan itu. Akhirnya ia menulis buku berjudul "*Saatnya Dunia Berubah. Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung*". Ia menyebut salah satu produsen vaksin terbesar ternyata milik Donald Rumsfeld (arsitek perang Irak). Dengan keberaniannya dan kevokalannya, serta upayanya menulis buku, bisa menggetarkan dunia, hingga ia dikatakan tidak kooperatif oleh anggota kongres AS. Dari fenomena itu ia menyadari dan mengajak perlunya umat Islam bersatu untuk melawan hegemoni asing. Selain itu, di Belanda muncul film yang melecehkan Islam dan Al-Quran, yang dirilis oleh politikus Partai Kebebasan Geert Wilders. Ini menambah deretan tanda pelecehan dan hegemoni Barat terhadap Islam. Film yang berjudul Fitna itu menggambarkan kitab suci Al-Quran sebagai kitab fasis dan Islam merupakan musuh kebebasan. Adapun respon masyarakat Belanda dari berbagai ras dan agama menentang film tersebut. Mereka menuntut dihentikannya fitnah terhadap Islam. Dari paparan diatas, perlunya negara-negara muslim berbenah diri, instropeksi terhadap eksistensi bangsanya, membangun kekuatan super power untuk melawan arogansi dan imperialisme negara-negara adikuasa. Pada hakekatnya, Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang anggotanya negara-negara muslim merupakan sebuah sarana yang paling strategis dalam menyatukan umat Islam hingga terbentuk sebuah benteng pertahanan umat Islam, sebagaimana yang telah diungkapkan Presiden Iran Ahmadinejad. OKI diharapkan menjadi corong seruan dunia Islam dan bangsa-bangsa tertindas untuk menuntut keadilan serta pembela nilai-nilai Islam. Juga diharapkan mampu memainkan peranan penting dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai macam krisis yang dialami oleh dunia Islam.&lt;br /&gt;Ternyata ide dan gagasan tersebut sulit untuk diaplikasikan, terkait dengan politik hegemoni AS dan negara-negara Barat. Merekalah yang membentuk sistem sekaligus pemegang kendalinya. Walaupun Barak Obama menjadi Presiden AS, belum tentu dia bisa membuat kebijakan-kebijakan baru yang menguntungkan umat Islam, karena dibaliknya terdapat sebuah sistem global, yang dikuasai oleh para kaum kapitalis liberal Yahudi. Disamping itu, lemahnya bargaining position negara-negara muslim terhadap negara-negara adikuasa sehingga terkesan bersikap inferior. Juga belum adanya political will bagi negara-negara muslim, terkait dengan eksistensi mayoritas negara muslim cenderung menjadi anak manis AS dan sekutunya. Meskipun demikian, OKI tetap diharapkan menjadi salah satu solusi alternatif sebagai pemersatu negara-negara Muslim, untuk memerankan fungsinya, mereduksi hegemoni barat, mengishlah citra Islam demi kemajuan dan kemaslahatan umat Islam. Wallahua'lam bish-showab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-3586392112469723396?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/3586392112469723396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=3586392112469723396&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/3586392112469723396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/3586392112469723396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/04/hegemoni-barat-terhadap-dunia-islam.html' title='Hegemoni Barat Terhadap Dunia Islam'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R_Y1qwZzrJI/AAAAAAAAAB8/TDqfLYoHlXM/s72-c/QCAJB04N1CAMCIIM3CAEVKQ1WCAK00QVBCATV1V6HCA8R0QN8CAHV6SHUCAREUHZPCAAABS03CAK7CN26CA00I23WCA2DPIMQCAZB5PE7CA6RE0UXCA7DG14QCAXI1BCDCAJ29TK1CA70BJUDCA2ZS3MI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-4756780717054221645</id><published>2008-03-21T21:55:00.002+05:00</published><updated>2008-03-21T22:56:39.205+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Paradigma Idealitas Kecerdasan Sosial Dalam Perspektif Islam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : M. Ihsanuddin, S.Th.I&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;Problematika sosial yang terjadi di masyarakat tidak lain merupakan dampak lajunya arus globalisasi yang menuntut adanya legitimasi publik dengan diaplikasikan sistem pola kehidupan modern. Sistem tersebut dibangun atas dasar kerangka keilmuan yang rasionalistik liberalistik, dengan memarginalkan nilai-nilai spiritualitas. Tanpa disadari sistem ini melahirkan manusia dan peradaban yang kehilangan fitrahnya, atau terbentuk sebuah mindset dan lifestyle (pola kehidupan manusia) yang bersifat materialistis, individualistis, egoistis, hedonis, dan arogan. Berangkat dari pola pikir diatas, artikel ini membicarakan pentingnya rekonstruksi paradigma berpikir dan pola kehidupan manusia atas dasar pondasi terhadap sistem dan konsep Islam yang bersumber dari pedoman hidup umat Islam yaitu Al-Quran dan Al-Hadits. Demikian juga merespon berbagai macam metode Barat yang dijadikan standar pola pikir untuk mencapai keberhasilan seseorang dalam hidupnya dengan menawarkan sebuah format baru yang lebih relevan dan ideal untuk dijiwai oleh setiap individu muslim, yaitu integrasi dan kolaborasi antara kecerdasan otak, emosi, dan spiritual yang dimanifestasikan dalam bentuk kecerdasan sosial. Maka akan terlahir generasi muslim yang mempunyai sikap jujur, tanggung jawab, empati, kooperatif, loyal terhadap Allah dan sesama, kerjasama, adil, kredibel, visioner dan peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Eksistensi manusia sebagai makhluk sosial dituntut untuk saling berinteraksi dengan sesama&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Bila ditelusuri lebih mendalam, manusia lebih hebat dari pada makhluk lainnya&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; dalam konteks menjadi khalifah di muka bumi&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Kehebatannya berupa anugerah Allah dengan diciptakannya manusia dalam bentuk dua dimensi, dimensi jasmani dan rohani. Jasmani terdiri dari instrumen panca indera dan akal, sedangkan rohani meliputi jiwa, hati dan intuisi&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Terkait dengan konsep dasar penciptaan manusia dalam bentuk yang paling sempurna&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, maka konsekwensi logisnya yaitu menyembah dan beribadah kepada Allah Swt&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Itulah merupakan bagian dari fitrah manusia. Dalam rangka melaksanakan kewajibannya, manusia dituntut untuk mengfungsikan dua dimensi tersebut secara holistik dan integral, yang dimanisfestasikan dalam bentuk mua'malah secara vertikal (interaksi antara makhluq dengan Sang Khaliq) maupun horizontal (Interaksi antara sesama makhluq). Namun dalam realitas yang ada, secara fungsional terjadi parsialisasi dan dikotomi, bahkan penafikkan terhadap salah satu diantara keduanya, hingga berdampak pada tereduksinya fitrah dan keseimbangan dalam hidupnya. Nampak dalam tatanan sosial masyarakat di zaman sekarang, manusia seperti mesin atau robot, tidak memiliki kefitrahan jiwa walaupun mereka berpendidikan tinggi. Dengan ditandai adanya kesenjangan sosial yang sangat memprihatinkan antara si kaya dan si miskin, kemiskinan struktural, krisis moral, serta kriminalitas yang telah merajalela. Inilah beberapa fenomena yang berkesinambungan di masyarakat sebagai dampak kurang maupun tidak difungsikannya secara maksimal instrumen-instrumen yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia, baik itu panca indera, akal, maupun hati. Padahal Allah Swt. mengibaratkan manusia itu seperti binatang ternak bahkan lebih hina (QS.Al-A'raf:179), apabila bertentangan dengan fitrahnya dan tidak mengfungsikan instrumen-instrumen tersebut untuk memahami ayat-ayat qouliyah (Al-Quran dan Al-Hadits) dan kauniyah (fenomena alam dan sosial masyarakat). Dari sini perlunya reformulasi dan upgrading kecerdasan utama manusia yaitu Kecerdasan Spiritual (SQ), Emosi (EQ), otak (IQ) serta kecerdasan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Barat dari IQ, EQ, SQ hingga Social Intelligence.&lt;br /&gt;Terma kecerdasan biasanya berkaitan dengan kemampuan jiwa manusia untuk berpikir, menyelesaikan permasalahan, belajar, memahami hal-hal yang baru, dan mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang telah berlalu&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Namun definisi makna kecerdasan sendiri menjadi perdebatan antara para ilmuwan barat, apakah berarti kemampuan general seseorang, atau properti otak, sifat-sifat tingkah laku ataupun kumpulan pengetahuan dan skill?. Meski demikian, kebanyakan orang memiliki konsep tersendiri tentang komponen-komponen kecerdasan, diantaranya kepandaian, bisa memutuskan dengan baik, kemampuan menyelesaikan permasalahan, kemampuan verbal (lisan), dan minat belajar, serta kompetensi sosial&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;Dalam historis terma Intelligence (kecerdasan) di Barat, bermula dari penelitian tentang perbedaan kecerdasan seseorang oleh ilmuwan Inggris Francis Galton pada akhir abad 19 (1884-1890), yang diukur dengan berdasarkan keturunan, yang dikorelasikan antara kemampuan intelektual dengan ketrampilan. Dia juga menemukan ide bahwa standar kecerdasan berdasarkan kwantitas. Akan tetapi James McKeen Cattell (1890) seorang psikolog Amerika menentang penemuannya Galton bahwa keturunan tidak berkorelasi dengan kesuksesan akademik. Selain itu, Alfred Binet dan Teodore Simon seorang psikolog Perancis sebagai penemu pertama kali teori test kecerdasan dengan prediksi yang akurat terhadap kesuksesan akademik anak didik, dan dijadikan standar kecerdasan seseorang yang digunakan dalam sistem rekrutmen di dunia akademik, militer dan dunia kerja. Namun teori test kemampuan intelektual ini mengalami kontroversi dan berbagai kritik, diantaranya tidak adanya validitas test disebabkan tidak adanya test kemampuan mental, seperti kebijaksanaan, kreatifitas, kompetensi sosial, dan penerapan ilmu pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;Pada tahun 1983 psikolog Amerika Howard Gardner menawarkan definisi dan konsep baru dalam kecerdasan, yakni multiple intelligence. Dia mengidentifikasi 7 macam kecerdasan, diantaranya pertama Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), kedua Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), ketiga Kecerdasan Visual/Spasial, keempat Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), kelima Kecerdasan Kinestik / Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), keenam Intrapersonal (kemampuan berinteraksi dan komunikasi dengan orang lain) dan ketujuh Interpersonal (kapasitas mengintrospeksi dan refleksi diri)&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Menurut Sean Covey , Dr. Thomas Armstrong juga mengidentifikasikan tujuh jenis kecerdasan diatas dengan pernyataan bahwa anak-anak bisa belajar paling baik lewat kecerdasannya yang paling dominan&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Sedangkan pada tahun 1980-an seorang psikolog Amerika Robert Sternberg menawarkan teori yang tidak jauh beda dengan teori Gardner, dengan membagi kecerdasan dalam 3 aspek utama, pertama kecerdasan analisis (ketrampilan dalam berpikir, memproses informasi, dan menyelesaikan masalah, termasuk kemampuan analisa, evaluasi, menilai, dan membandingkan). Kedua kecerdasan kreatif yaitu skill yang diperoleh dari pengalaman untuk mencapai sebuah wawasan yang sesuai dengan situasi yang baru. Ketiga kecerdasan praktek yaitu kemampuan seseorang beradaptasi, memilih, dan membentuk realitas lingkungan dunianya&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;Ternyata teori kecerdasan yang ditawarkan oleh Galton, Binet dan Simon, Gardner serta Robert Sternberg belum sempurna, maka muncullah teori baru "Emotional Intelligence" yang diprakarsai oleh psikolog Amerika Peter Salovey dan John Mayer (1990). Teori baru tersebut merupakan kemampuan untuk merasa, memahami, mengungkapkan, dan mengatur emosi. Teori ini kemudian dipopulerkan oleh seorang pengarang dan jornalis Daniel Goleman dengan bukunya " Emotional Intelligence" (1995) yang memuat juga didalamnya konsep kompetensi sosial&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Dalam realitasnya, teori ini juga belum bisa mencapai kesempurnaan, hingga timbullah teori "Spiritual Intelligence" yang pertama digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dari Harvad dan Oxford University. Kecerdasan spiritual ini ditemukan dalam pusat spiritual yang terletak dijaringan saraf dan otak&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Walaupun telah ditemukan berbagai macam teori, terakhir kali muncul teori baru yang digagas oleh Daniel Goleman dengan bukunya "Social Intelligence" . Dia mengeksplorasi kecerdasan sosial sebagai ilmu baru dengan implikasi yang mengejutkan terhadap interpersonal. Seperti reaksi antar individu, mengatur gerak hati yang membentuk hubungan baik antar individu. Menurut Goleman ekspresi kecerdasan sosial tersebut berdasarkan kharisma dan kekuatan emosi. Dia juga mendeskribsikan tentang adanya penyakit jiwa dan autistic sebagai dampak hilangnya kecerdasan sosial. Selain itu, dia juga mengakui bahwa setiap individu mempunyai fitrah yang integral, seperti kerjasama, empati, dan altruism (sifat mementingkan kepentingan orang lain)&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prototipe Kecerdasan Sosial dalam Perspektif Islam&lt;br /&gt;Islam merupakan agama universal yang mencakup berbagai aspek hidup dan kehidupan, material dan spiritual, personal dan sosial. Terkandung didalamnya nilai-nilai universal, komprehensif, dan integral, yang mengatur segala sistem kehidupan manusia, mulai dari Aqidah, Syariah, Akhlaq, Ibadah dan Mu'amalah&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Meski demikian, realitas sebagian umat Islam belum mampu memahami nilai-nilai agamanya secara komprehensif dan integral, akan tetapi masih bersifat parsial yang hanya mengedepankan kepentingan individu maupun golongan yang berasal dari hati dan pikiran yang gersang dari spiritualitas ilahi. Maka disinilah perlunya implementasi integritas dan sinergi antara jasmani dan rohani, material dan spiritual, interaksi vertikal (hubungan dengan Sang Pencipta Allah swt) dan interaksi horizontal (hubungan intrapersonal, antara sesama)&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;Pada hakekatnya, kehidupan manusia merupakan sebuah life cycle&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; yang berawal dari alam dzuriyah (alam sebelum alam dunia), lalu alam nyata (dunia), dan alam kubur, hingga akhirnya mencapai kehidupan yang kekal (alam akherat)&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Ketika di alam dunia, manusia dituntut untuk mengetahui dan memahami hakekat dirinya&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, visi dan misi diciptakannya di dunia ini. Dengan menginstropeksi diri, siapakah saya?, akan kemanakah kelak saya akan pergi? untuk apa saya hidup di dunia? apa yang saya inginkan?, seseorang akan mengetahui hakekat jati diri dan kehidupannya. Berbekal panca indera, ruh, hati, nafsu dan akal, serta diturunkannya petunjuk yang absolut kebenarannya (Al-Quran dan Al-Hadits), manusia dituntut untuk bisa menentukan arah hidupnya dengan memfungsikan segala instrumen yang dimilikinya dan petunjuk yang telah diberikan dengan maksimal demi mencapai derajat yang lebih tinggi dari binatang&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, menjadi yang paling sempurna diantara manusia, orang-orang yang beriman yaitu muttaqin, muhsinin (orang-orang yang berbuat baik), dan mukhlisin (orang-orang yang ikhlas).&lt;br /&gt;Kecerdasan sosial dalam perspektif Islam merupakan segala kemampuan manusia dalam memahami kebutuhan, masalah, fungsi, relasi sosial dan kesempatan atas berbagai macam problematika sosial masyarakat untuk memberikan kontribusi dan solusi, baik yang bersifat material maupun spiritual, dengan dilandasi hubungan saling percaya melalui pendekatan suara hati dan ikhlas kepada Allah swt&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Makna terminologi kecerdasan sosial tersebut sebagai manisfestasi dari kolaborasi dan integrasi antara pendekatan kognitif atau kecerdasan otak dengan kecerdasan emosi serta spiritual yang bersumber dari tauhid yang benar dan dalam bingkai nilai-nilai universalitas Islam.&lt;br /&gt;Dengan berlandaskan makna diatas, maka diantara prototipe (bentuk asli) dari individu yang memiliki kecerdasan sosial yang ideal dalam perspektif Islam adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memiliki Landasan Berpikir, Mindset, dan Prinsip Hidup yang benar.&lt;br /&gt;Mayoritas manusia di zaman globalisasi memiliki pola pikir, prinsip dan visi hidup hanya sebatas dalam lingkup kepentingan pribadi, temporal, dan materialistis. Memang tidak ada salahnya, ketika seseorang berprinsip dalam hidupnya untuk mencapai jabatan/kedudukan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, dan istri yang cantik. Akan tetapi tujuan maupun prinsip hidup seperti diatas hanya bersifat temporal dan tidak bermakna, jika tidak dilandasi dengan nilai-nilai-nilai Islam, baik yang berasal dari implementasi rukun iman maupun Islam. Konsekwensi sebagai seorang muslim dan mukmin, sudah sepantasnya memiliki pola pikir dan prinsip hidup yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Yakni menjadi superior disisi Allah dan makhluqnya dengan hiasan taqwa dan akhlaqul karimah.&lt;br /&gt;Sebagaimana terdapat dalam konsep falsafah hidup Islam, derajat seseorang yang memiliki kesucian hati dan keilkhlasan amal, lebih tinggi dan mulia dibandingkan dengan keindahan jasmani dan banyaknya harta yang dimilikinya&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Dalam pepatah arab juga disebutkan "Sebaik–baik manusia adalah yang paling baik akhlaqnya dan paling bermanfaat bagi manusia". Juga dalam pepatah arab yang maksudnya : "Manusia seribu itu ibarat seorang karena hanya memikirkan dirinya dan tidak bermanfaat bagi orang lain, sedangkan seorang manusia ibarat seribu jika bermanfaat bagi orang banyak melalui pendidikannya, pemikirannya, nasehatnya, dan segala bentuk bantuan yang diberikan kepada yang lainnya&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Dalam firman Allah disebutkan : "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah disisi Allah orang yang paling taqwa diantara kamu"&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Tercantum juga dalam ayat-ayat Al-Quran selalu ada kombinasi antara keimanan dan amal sholeh&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Ad Dailami: "Iman bukanlah angan-angan, tetapi apa yang bersemayam dalam hati dan diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan.".&lt;br /&gt;Jika seseorang sudah memiliki prinsip hidup yang benar (mempunyai visi keseimbangan antara kesuksesan dunia dan akherat), pola pikir melingkar dan holistik (berpikir untuk kepentingan diri sendiri dan masyarakat luas) dengan dilandasi tauhid yang benar, maka seseorang itu akan memiliki dinamika kehidupan yang tinggi dan bisa mengaktualisasikan potensi dirinya secara istiqomah. Sebagaimana dalam pepatah Arab disebutkan : "perjalanan hidup seseorang merupakan manifestasi jiwa dan hatinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki sikap dan kepribadian yang tangguh dan unggul.&lt;br /&gt;"Keindahan seseorang itu bukan pada pakaian yang menghiasinya, tapi keindahan seseorang itu terletak pada keindahan ilmu dan adab" (pepatah arab).&lt;br /&gt;Sikap dan kepribadian seseorang tidak lain merupakan pengejawantahan dari point pertama diatas. Menurut Ari Ginanjar dalam bukunya "Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual", mengatakan bahwa dalam membentuk kepribadian yang tangguh memerlukan prinsip-prinsip, diantaranya : pertama; "prinsip bintang, yakni kepribadian seseorang seharusnya dilandasi dengan tauhid, sehingga timbul rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi, integritas yang sangat kuat, sikap bijaksana dan motivasi yang sangat tinggi".&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kedua; "prinsip malaikat dengan ciri seseorang memiliki tingkat loyalitas yang tinggi, komitmen yang kuat, memiliki kebiasaan untuk mengawali dan memberi, suka menolong dan memiliki sikap saling percaya"&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Ketiga; "prinsip kepemimpinan, selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai, memiliki integritas yang kuat sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya, dan memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten".&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Keempat; "prinsip pembelajaran, memiliki kebiasaan membaca buku dan membaca situasi dengan cermat, selalu berpikir kritis dan mendalam, selalu mengevaluasi pemikirannya kembali, bersikap terbuka untuk mengadakan kesempurnaan dengan berpedoman pada Al-Quran dan Al-Hadits"&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Kelima; "prinsip masa depan, selalu berorientasi pada tujuan akhir terhadap setiap langkah yang dibuat, melakukan setiap langkah secara optimal dan sungguh-sungguh, dan memiliki kendali diri dan sosial karena telah memiliki kesadaran akan adanya kehidupan akherat"&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memiliki kapasitas mengaktualisasikan potensi diri dalam hidup bermasyarakat.&lt;br /&gt;Setiap individu memiliki potensi diri, baik yang bersifat material maupun spiritual, dhahiriyah maupun batiniyah. Potensi diri seseorang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan pembawaan, lingkungan termasuk pendidikan yang dilaluinya. Berdasarkan realitas di masyarakat, secara tidak langsung strata sosial terbentuk dari perbedaan potensi diri yang dimiliki oleh seseorang. Maka ketika seseorang mampu mengaktualisasikan potensi dirinya dengan maksimal, dia akan mencapai strata sosial yang tinggi. Tapi itu bukanlah niat dan tujuan utama dari aktualisasi potensi diri. Tujuan utama dan bentuk riil aktualisasi potensi diri tersebut yaitu berbuat baik demi kemaslahatan umat dengan mengharapkan ridha Allah swt&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Disinilah dibutuhkan prinsip-prinsip, salah satunya yaitu prinsip memberi. Prinsip ini bisa dilakukan oleh siapa saja sesuai dengan kapasitasnya, baik kaya maupun miskin, dan bisa berupa materiil dan spirituil. Diantara salah satu implementasi prinsip ini dalam rukun Islam yaitu Zakat. Zakat disini sebagai salah satu aksi dari wujud fitrah manusia&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, yaitu kepedulian manusia terhadap lainnya. Inilah wujud dari sistem sosial dalam Islam, bahwa ada sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan umum&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Bentuk riil dari implementasi "prinsip memberi" selain Zakat yaitu infaq dan shadaqah, perkataan dan nasehat yang baik, dan sebagainya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.&lt;br /&gt;Salah satu contoh dari aktualisasi potensi diri yaitu seorang tokoh KH. Ahmad Dahlan yang mendirikan Organisasi Muhammadiyah yang bergerak di bidang dakwah dan sosial kemasyarakatan. Pendirian organisasi tersebut terinspirasi dari makna yang terkandung dalam surat Al-ma'un untuk mengatasi problematika sosial masyarakat. Disebutkan dalam surat tersebut sebagai pendusta agama bagi mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Maka didirikanlah panti asuhan anak yatim, rumah sakit, dan madrasah-madrasah untuk menampung dan mendidik mereka&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;Sebenarnya aktualisasi konsep kecerdasan sosial diatas tidak sulit, sebagaimana yang ditulis Abdul Wahab dalam artikelnya, "Dalam konteks pendidikan kecerdasan sosial tersebut, salah seorang wali dari Wali Songo, yakni Sunan Drajat, mencoba memformulasikan resep kecerdasan sosial dalam aktivitas dakwahnya dengan ungkapan sederhana, berilah tongkat kepada orang buta, berilah pakaian kepada orang yang telanjang, berilah makan kepada orang yang kelaparan, dan berilah perlindungan kepada orang yang kehujanan. Berilah pakaian kepada orang yang telanjang mengandung arti agar mendidik orang yang tak memiliki rasa malu agar menjadi orang yang berakhlak mulia. Pendidikan rasa malu sangat penting karena rasa malu adalah sebagian dari iman. Mereka yang suka membuka aurat atau melakukan pornografi dan pornoaksi perlu disadarkan dengan mencerdaskan rasa malunya"&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dalam mengaplikasikan paradigma kecerdasan sosial diatas, perlu sebuah sampel dan suri teladan yang benar-benar bisa dijadikan figur bagi umat. Dan sebenarnya itu sudah ada dalam agama Islam itu sendiri, mulai dari Nabi Muhammad SAW dalam Siroh Nabawiyah-nya sampai sejarah para sahabat dan pengikutnya, serta ulama'-ulama Islam sesudahnya. Akan tetapi tidak hanya sekedar itu, juga perlu dibentuk sebuah konsep dan sistem pendidikan Islam yang memiliki integritas seluruh kecerdasan yang dimiliki manusia, dari kecerdasan otak, hati spiritual, emosional, dan sosial. Timbulnya berbagai macam problematika sosial tersebut tidak lain juga disebabkan produk sistem pendidikan yang sekuler dan parsial, dengan menafikkan nilai-nilai spiritualitas Islam. Maka yang sangat berperan dalam membentuk pribadi-pribadi muslim yang mempunyai kecerdasan sosial yang tinggi yaitu mulai dari pendidikan keluarga (terutama peran Ibu dalam mendidik anaknya), pendidikan sekolah (sekolah/madrasah yang mempunyai sistem integral dan komprehensif) dan lingkungan disekitarnya (lingkungan yang religius).&lt;br /&gt;Wallahua'lam bish-shawwab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;1. Al-Quranul Karim&lt;br /&gt;2. Ibnu Kholdun, Muqodimah, (Maktabah Shamilah ).&lt;br /&gt;3. Ibnu 'Asyur, Tafsir Tahrir wa Tanwir (Maktabah Shamilah).&lt;br /&gt;4. Azhar Arsyad, Universitas Islam: Integrasi dan Interkoneksitas Sains dan Ilmu Agama Menuju Peradaban Islam Universal, Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Islam "Tsaqafah" , vol. 2, No. 2, 2006/1427, ISID Gontor&lt;br /&gt;5. Douglas K., Intelligence, Microsoft® Student 2007&lt;br /&gt;6. Theory_of_multiple_intelligences, http://en.wikipedia.org.&lt;br /&gt;7. Sean Covey, 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif (terj), hlm. 265; (Binarupa Aksara, Jakarta, 2001).&lt;br /&gt;8. Douglas K., Intelligence, Microsoft® Student 2007&lt;br /&gt;9. Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual " ESQ", (Arga, Jakarta, 2006).&lt;br /&gt;10. Ilyas Ba Yunus, Sosiology and Muslim Social Realities, Social And Natural Sciences; The Islamic Perspective, (King Abdulaziz University, Jeddah, 1981)&lt;br /&gt;11. http://eu.wiley.com&lt;br /&gt;12. Yusuf Qardhawi, Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (terj), Rabbani Press.&lt;br /&gt;13. Abdur Rouf Al-Manafi, Faidzul Qodir (Maktabah Shamilah)&lt;br /&gt;14. "Majmu'atul mahfuudzaat lissanah ula ilal khomisah, KMI&lt;br /&gt;15. Irwan Prayitno, Kepribadian Muslim, (Pustaka Tarbiatuna, Jakarta, 2005)&lt;br /&gt;16. Miskin Jurnal Peradaban dan Ulumul Quran, No. 6/VII/1997, hlm. 40.&lt;br /&gt;17. Muhbib abdul Wahab, Kecerdasan Sosial, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, kamis 15 Januari 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Ibnu Kholdun , Muqodimah, h. 5; (Maktabah Shamilah ).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Ibnu "Asyur, Tafsir Tahrir wa Tanwir " Al-Isra' : 70 " ; j. 8; h. 274 (Maktabah Shamilah).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Azhar Arsyad, Universitas Islam: Integrasi dan Interkoneksitas Sains dan Ilmu Agama Menuju Peradaban Islam Universal dalam Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Islam "Tsaqafah" , vol. 2, No. 2, 2006/1427, ISID Gontor, hlm. 162.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid, hlm. 64&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Surah At-Tiin : 4.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Surat Adz-Dzariyat : 56.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Douglas K., Intelligence, Microsoft® Student 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Theory_of_multiple_intelligences, http://en.wikipedia.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Sean Covey, 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif (terj), hlm. 265; (Binarupa Aksara, Jakarta, 2001).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Douglas K., Intelligence, Microsoft® Student 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Ari Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritua " ESQ", hlm. 44; (Arga, Jakarta, 2006).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat http://eu.wiley.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Yusuf Qardhawi, Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (terj), hlm. 77, Rabbani Press.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Surah Al-Qoshosh : 77&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ari Ginanjar, Op. cit. 214.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Surah mukmin; 39, artinya : "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Faidzul Qodir, juz 5, hlm. 64 (Maktabah Shamilah)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Al-A'raf : 179&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid, Ari Ginanjar, hlm. 335.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Hadits Nabi yang diriwayatkan Muslim dari Abu Huroiroh ra :"Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada rupa-rupamu dan harta-hartamu, tetapi Allah akan melihat hatimu dan amal perbuatanmu".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat "majmu'atul mahfuudzaat lissanah ula ilal khomisah, hlm. 53, KMI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Al-Hujurat : 13&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Diantaranya dalam surat (Al-Baqarah : 25, 82, 277, Ali-Imran: 57, An-Nisa' : 57, 122, 173, 10, 93, Al-Ashr : 3)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Op.cit, ESQ, hlm. 137&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid. hlm. 152.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid. hlm. 175&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid, hlm. 201.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid, hlm. 217&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Irwan Prayitno, Kepribadian Muslim, hlm. 225, (Pustaka Tarbiatuna, Jakarta, 2005)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Ilyas Ba Yunus, Sosiology and Muslim Social Realities dalam buku Social And Natural Sciences; The Islamic Perspective, hlm. 32; (King Abdulaziz University, Jeddah, 1981)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Dalam Al-Quran (Ad-Dzariyat : 19 disebutkan "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian" .Lihat Miskin dalam Jurnal Peradaban dan Ulumul Quran, No. 6/VII/1997, hlm. 40.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid. hlm. 36.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Muhbib abdul Wahab, Kecerdasan Sosial, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, kamis 15 Januari 2006.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-4756780717054221645?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/4756780717054221645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=4756780717054221645&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/4756780717054221645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/4756780717054221645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/03/paradigma-idealitas-kecerdasan-sosial_21.html' title='Paradigma Idealitas Kecerdasan Sosial Dalam Perspektif Islam'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-282202198367633207</id><published>2008-03-21T21:55:00.001+05:00</published><updated>2008-03-21T23:13:58.420+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Persepsi Nasionalisme</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : M.Ihsanuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme merupakan sebuah terminologi yang tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana tidak? Dalam konteks era globalisasi seperti sekarang ini, Setiap negara sudah menanamkan benih-benih nasionalisme terhadap bangsanya, baik melalui pendidikan formal dengan memberikan porsi muatan materi yang mengandung pemahaman nasionalisme negaranya, maupun melalui event-event yang diadakan oleh negara untuk mengenalkan masyarakatnya terhadap segala bentuk produk budaya, karya, keyakinan dan pemahaman bangsa, juga membuat slogan-slogan ataupun yel-yel yang berfungsi sebagai pemicu timbulnya rasa memiliki negara (sense of national belonging), rasa percaya diri sebagai warga negaranya, dan rasa mencintai negara dan tanah airnya. Misalkan saja, Republik Islam Pakistan dengan slogannya "sub se pihli Pakistan" ( Pakistan diatas dan paling maju dibanding negara-negara lainnya), slogan seperti ini saja bisa membentuk sebuah persepsi warga negara dan mencanduinya untuk bisa menyakini dan mengatakan bahwa Pakistan sebagai negara superior. Realitas seperti itu, sudah menjadi trend global (lintas bangsa, negara, agama, suku dan ras) ataupun sebuah keharusan yang dilakukan oleh setiap negara dengan tujuan demi terwujudnya suatu bangsa yang sangat mencintai negara dan tanah airnya, berani berkorban baik material maupun spiritual demi membela negara dan tanah airnya dari cengkeraman penjajah. Maka secara tidak langsung, istilah nasionalisme telah menjiwai setiap individu dalam berbangsa dan bernegara. Dan sudah di-claim menjadi salah satu paham yang harus dikuti oleh setiap negara, yang menjiwai setiap kebijakan dalam negerinya (domestic policy) maupun kebijakan luar negerinya (foreign policy), yang ujungnya berimplikasi pada pembentukan sebuah ideologi bangsa atau juga bisa berdampak pada transformasi bentuk negara.&lt;br /&gt;Pada hakekatnya, secara historis, terminologi nasionalisme bermula dari benua Eropa sekitar abad pertengahan. Kesadaran berbangsa - dalam pengertian nation-state – yang dipicu oleh gerakan Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther di Jerman. Saat itu, Luther yang menentang Gereja Katolik Roma menerjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa Jerman dengan menggunakan gaya bahasa yang memukau, kemudian berimplikasi terhadap munculnya rasa kebangsaan Jerman yang memiliki identitas sendiri. Dalam perkembangannya nasionalisme Eropa yang pada awalnya menghasilkan deklarasi hak-hak asasi manusia berubah menjadi kebijakan yang berdasarkan atas kekuatan, self interest (kepentingan individu), tanpa menghiraukan lagi asas kemanusiaan. Juga menjadi jargon persaingan antar bangsa-bangsa Eropa yang menimbulkan imperialisasi terhadap negeri-negeri yang pada waktu itu belum memiliki identitas kebangsaan di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Pada tahap selanjutnya, para pemikir Eropa meng&amp;shy;-claim bahwa kekuasaan kolektif yang terwujud dalam negara yang bersifat obyektif lebih penting daripada kemerdekaan individual yang bersifat subyektif. Kemudian pada tahap akhir, terbentuklah suatu paham yang menyatakan bahwa negaralah yang memonopoli segala kebijakan, yang menentukan apa itu moral ataupun amoral, mana yang baik dan mana yang desktruktif. Pada puncaknya nasionalisme melahirkan paham fasisme (doktrin kepatuhan mutlak terhadap pemerintah dalam segala aspek kehidupan) sebagai ideologi politik modern yang diterapkan pertama kali oleh pemimpin diktator Italia Benito Mussolini pada tahun 1919, dan juga rasisme (paham yang mengunggulkan sukunya atas sebagian yang lain).&lt;br /&gt;Dalam konteks keIndonesiaan, sejak dideklarasikan kemerdekaan RI, nasionalisme telah menjadi perdebatan antara Founding Fathers negara Indonesia. Perdebatan yang sangat menentukan ideologi bangsa tersebut berkisar pada bentuk rumusan pancasila, pada awalnya telah disepakati rumusan tersebut bernama Piagam Jakarta atas usulan Ir. Sukarno dengan lima sila, pada sila pertama ditambahi dengan anak kalimat :" Dengan melaksanakan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya". Akan tetapi kesepakatan ini menjadi perdebatan antara nasionalis sekuler dan nasionalis Islam, sampai muncul ancaman akan timbulnya disintegrasi bangsa jika tidak ada perubahan pernyataan pada sila pertama. Lantas disepakatilah perubahan pada sila pertama (sebagaimana rumusan pancasila sekarang), dengan rela kubu nasionalis Islam mengalah atas perubahan tersebut demi integritas bangsa dan negara. Sempat pada perkembanganya, negara Indonesia menjadi sebuah negara yang multiediologi atas gagasan Ir. Sukarno dengan NASAKOM-nya (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Dia berangggapan bahwa ketiga ideologi tersebut tidak saling berlawanan, akan tetapi malah sebailknya, adanya keterkaitan antara ketiganya. Dia ingin menyatukan antara ketiganya, dengan menjustifikasi bahwa cita-cita Islam untuk mewujudkan persaudaraan umat manusia tidak bertentangan dengan konsep nasionalisme dan menolak pemahaman nasionalisme yang sempit yang mengarah pada timbulnya patriotisme. Juga menjustifikasi konsep komunisme tidak bertentangan dengan Islam, dengan dalih komunisme hanya merupakan salah satu metode untuk memecahkan permasalah-permasalahan ekonomi, sejarah dan sosial saja. Dari sini, jelas terlihat bahwa nasionalisme muncul semenjak lahirnya RI, diiringi dengan gagasan pembentukan negara sekuler, bahkan negara komunis, tapi akhirnya komunis tumbang, tinggal tersisa Nasionalisme dan Agama yang masih eksis sampai sekarang ini.&lt;br /&gt;Selain itu, menurut pakar sejarah, nasionalisme juga mengisi lembaran sejarah kelam umat Islam, yang merupakan salah satu faktor hancurnya benteng terakhir umat Islam yaitu Daulah Ustmaniyah (sistem kekhalifahan umat Islam) di Turki, yang telah dirintis sejak zaman Khulafaur-Rosyidin. Dengan tampilnya Musthafa Kamal yang menerima 4 Syarat yang diajukan Inggris untuk mengakui kekuasaan barunya di Turki, diantaranya; pertama: menghapus sistem khilafah, kedua: mengasingkan keluarga Utsmaniyah diluar perbatasan, ketiga: memproklamirkan negara sekuler, dan keempat: pembekuan hak milih dan harta milik keluarga Utsmaniyah.&lt;br /&gt;Atas dasar postulat-postulat (dalil) diatas, dapat kita pahami bahwa nasionalisme merupakan sebuah faham yang membentuk loyalitas berdasarkan kesatuan tanah air, budaya dan suku. Juga bisa diartikan pengkultusan suatu tanah air dengan memberikan kecintaannya secara berlebihan, yang berakibat pada lemahnya bahkan hilangnya loyalitas terhadap agamanya, serta memposisikan kecintaan, ketaatan, dan kesetiaan terhadap negara dan tanah air merupakan kesetiaan tertingggi yang berasaskan fanatisme. Lain daripada itu, ada yang mengartikulasikan nasionalisme sebagai kecintaan alamiah terhadap tanah air, kesadaran yang mendorong untuk membentuk kedaulatan dan kesepakatan untuk membentuk negara berdasar kebangsaan yang disepakati dan dijadikan sebagai pijakan pertama dan tujuan dalam menjalani kegiatan kebudayaan dan ekonomi.&lt;br /&gt;Namun demikian, mengingat eksistensi kita sebagai bagian dari umat Islam, sudah seyogyanya kita memaknai nasionalisme berdasarkan worldview Islam. Sebenarnya dalam Islam sendiri terjadi pro-kontra dalam memandang permasalahan ini. Dan yang menjadi permasalahan adalah dalam memaknai nasionalisme itu sendiri. Menurut Hasan Al-Banna –tokoh Ikhwanul Muslimin dari Mesir- menyatakan bahwa Islam tidak bertentangan dengan nasionalisme, apabila nasionalisme tersebut berasaskan tauhid dan aqidah yang benar dan dimaknai sebagai rasa cinta tanah air dan kerinduan kepadanya, dengan berkewajiban mengerahkan kekuatan untuk mewujudkan kemerdekaannya dan menebarkan prinsip-prinsip kemuliaan, juga mempererat tali ikatan antar sesama penduduk dan membimbingnya dengan cara yang terbaik demi kepentingan mereka, serta untuk membebaskan negeri-negeri lain dari penjajah dan berkedaulatan di muka bumi.&lt;br /&gt;Sedangkan yang kontradiktif dengan ideologi Islam, jika nasionalisme tersebut berdasarkan konsep murni nasionalisme yang menjadi jargon kaum imperialis, yang dimaknai sebagai paham yang berasaskan fanatisme dengan maksud menanamkan benih-benih permusuhan, memecah belah umat dalam berbagai golongan berdasarkan batasan teritorial dan geografis saja, ataupun suku dan ras,dll. Juga menimbulkan pertentangan, menebar kebencian, mencerai-beraikan umat dari yang haq, dan mempersatukan mereka pada kebathilan. Sebagaimana hadist Nabi SAW :&lt;br /&gt;"&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يُقَاتِلُ عَصَبِيَّةً وَيَغْضَبُ لِعَصَبِيَّةٍ فَقِتْلَتُهُ جَاهِلِيَّة" (أخرجه مسلم)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Siapa saja yang berjuang di bawah bendera fanatisme, benci karena fanatisme, menyeru karena fanatisme atau membela fanatisme, kemudian ia terbunuh, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah."&lt;br /&gt;Dengan demikian, bisa dipersepsikan bahwa Nasionalisme menurut terma Barat sebagai ideologi politik, dan itu vis a vis dengan agama (baca: Islam), karena di negara-negara Barat berkeyakinan bahwa agama harus terpisah dengan politik, dengan slogannya "Religion is for God and nation for all" (agama untuk Tuhan dan negara untuk semua). Maka sudah jelas ini berimplikasi pada segala kebijakan bangsa dan negara berdasarkan nasionalisme, yang berujung pada transformasi ideologi agama menjadi ideologi nasionalisme, hilangnya ideologi Islam, agama didiskriminasikan, hingga terbentuknya negara sekuler.&lt;br /&gt;Padahal Islam merupakan agama yang bersifat universal, komprehensif, dan integral, serta tidak bisa disekat-sekat ataupun dipilah-pilah dengan apapun yang berimplikasi pada tereduksinya values ataupun esensi Islam itu sendiri. Islam merupakan worldview dan ideologi, yang didalamnya meliputi 'aqidah, syariah, ghoyah dan minhaj.&lt;br /&gt;Demikianlah persepsi nasionalisme, tinggal bagaimana kita memposisikan diri, ideologi mana yang kita yakini? Terakhir renungkanlah ayat ini :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;"وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa". (Al-An'am ; 153)&lt;br /&gt;Allahumma arinal haqqa-haqqa warzuqnat-tiba'ah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-282202198367633207?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/282202198367633207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=282202198367633207&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/282202198367633207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/282202198367633207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/03/persepsi-nasionalisme.html' title='Persepsi Nasionalisme'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-1946233033337246575</id><published>2008-03-21T21:55:00.000+05:00</published><updated>2008-03-21T22:58:23.975+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Perspektif Dunia Pendidikan di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R-PrSAZzrHI/AAAAAAAAABo/uArHhJV3nAs/s1600-h/ACAERK1Q8CA1NCZUTCAJR5E39CAJ8E085CAP6J9CPCAL0I6XQCARQ6Y1PCAP9OMW6CADBX9DVCA6M8DJGCAAA4BLVCACCC9RYCAA5VVTJCAJOEKF9CADROVWICAS5YUFWCAFT49RFCAFIPJP0CA8UUC2W.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180242690984619122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R-PrSAZzrHI/AAAAAAAAABo/uArHhJV3nAs/s200/ACAERK1Q8CA1NCZUTCAJR5E39CAJ8E085CAP6J9CPCAL0I6XQCARQ6Y1PCAP9OMW6CADBX9DVCA6M8DJGCAAA4BLVCACCC9RYCAA5VVTJCAJOEKF9CADROVWICAS5YUFWCAFT49RFCAFIPJP0CA8UUC2W.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh M. Ihsanuddin&lt;br /&gt;Dalam sebuah kehidupan, manusia tidak akan terlepas dari apa yang namanya pendidikan. Karena pendidikan merupakan sebuah proses dari pertumbuhan jiwa, jasmani dan rohani seseorang sejak dilahirkan di dunia. Dan itu merupakan sebuah modal dasar dalam membentuk kepribadian seseorang, karena pendidikan dapat mempengaruhi paradigma berpikir, etika, tingkah laku dan cara berbicara serta cara berpakaiannya.&lt;br /&gt;Dengan pendidikan, manusia dapat mengeksplorasi apa yang ada di bumi ini, termasuk mengolah dan memanfaatkannya. Dengan pendidikan, manusia dapat menjalankan amanat Allah sebagai khalifah di bumi. Dengan pendidikan, Allah akan mengangkat derajatnya. Maka dari hal-hal tersebut, jelaslah bahwa pendidikan mempunyai peranan yang vital dalam membentuk masyarakat madani yang dinamis, progresif serta berlandaskan kepada wahyu Ilahi, sehingga terbentuk sebuah negara yang baik yang selalu dalam ampunan dan Lindungan-Nya. Karena pada hakikatnya, kejayaan dan kemajuan suatu bangsa diukur dari tingkatan pendidikan, dan dari jumlah penduduk suatu negara itu. Negara yang maju, berperadaban tinggi, mempunyai budaya yang kuat, itu merupakan representative dari pendidikan negara tersebut.&lt;br /&gt;Menengok kembali sejarah pendidikan di Indonesia, mempunyai dua basis yang berbeda, yang pertama berbasis pesantren, dan kedua berbasis pemerintah. Pendidikan yang berbasis pesantren muncul dan berkembang seiring dengan berkembangnya Islam di Indonesia, diantara ulama dan kyai sebagai pendiri pesantren sekaligus dijadikan sebagai wadah untuk mengamalkan ilmunya. Dalam menjalankan roda pendidikannya, mereka menggunakan sistem salafi/kuno, yang mengandalkan pengalaman dan ilmu yang telah didapatkan.&lt;br /&gt;Basis yang kedua adalah ‘Pendidikan Nasional’ yang dimotori oleh pemerintah. Basis ini dirintis oleh seorang tokoh pendidikan nasional yaitu Ki Hajar Dewantara yang beorientasi pada peningkatan sumber daya manusia. Disebabkan rendahnya tingkat pendidikan ketika itu dan belum adanya sistem pendidikan yang teratur. Sistem pendidikan ini hanya berorientasi dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga pengalokasian waktu lebih banyak pada materi umum, dan kurang memperhatikan akhlak bangsa.&lt;br /&gt;Sejauh ini, pendidikan berkembang pesat dengan berbagai macam konsep dan sistemnya seiring dengan arus globalisasi dan perkembangan zaman. Dengan adanya arus globalisasi yang tidak memandang letak geografis, agama, dan tingkat kehidupannya, masyarakat dan praktisi pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber dayanya masing-masing demi menghadapi kemajuan zaman ini. Maka dengan persepsi yang demikian, para praktisi pendidikan serta orang-orang yang berkompeten dalam pendidikan membentuk berbagai macam konsep dan sistem yang ditawarkan masyarakat untuk memilih model pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman, yang muatannya kebanyakan untuk mencounter kemajuan dengan memperhatikan berbagai macam skill dan keahlian. Di lain pihak pendidikan yang berbasis pesantren tetap mempertahankan orientasinya sebagai wadah untuk mendalami ilmu-ilmu agama, dan sebagai benteng Islam di Indonesia, tapi di lain pihak pesantren juga tidak mau statis, yang cuma mengandalkan sistem dan sarana yang ada, tapi mulai adanya dinamisasi dengan penambahan muatan materi-materi yang sangat dibutuhkan di dunia luar pesantren, seperti bahasa inggris, computer, dll.&lt;br /&gt;Perkembangan pendidikan di Indonesia mempunyai banyak fenomena yang banyak mendapat kecaman, diantaranya adanya program pengiriman calon dosen ke Barat di mulai sekitar 10-15 tahun lalu, atas prakarsa Rektor IAIN Jakarta ketika itu Harun Nasution, yang bertujuan membangun kerjasama dengan berbagai universitas di luar negeri, salah satu yang terlama yaitu dengan McGill University Kanada, yang di sana memang ada program Magister dan Doktoral untuk pemikiran Islam. Munculnya isu SISDIKNAS pada tahun 2003, ini mengundang para tokoh pendidikan Islam, Para kyai, dan Para Tokoh Islam mengambil tempat untuk merancang dan menggolkan RUU SISDIKNAS supaya tidak merugikan pendidikan Islam. Akhir-akhir ini terjadi kormersialisasi pendidikan, dengan adanya otonomi sekolah untuk menentukan biaya sekolahnya sendiri, kalau sekolah itu favorit, maka biayanya mahal, sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat lapisan bawah. Juga sering terjadi perubahan kurikulum, yang secara tidak langsung mengganti buku-buku paket dengan kurikulum yang baru. Disitulah letak adanya komersialisasi dan pembebanan orang tua untuk menyekolahkan anaknya.&lt;br /&gt;Wajah pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari fenomena-fenomena yang terjadi dalam perkembangan pendidikan itu sendiri. Adanya tarik-ulur dari kalangan Islam moderat, Islam Salafi dan Nasionalis yang masing-masing mempunyai kontribusi dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, tingkat pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah dan lambat, ambil contoh Malaysia. Pada tahun 80-an Malaysia masih mengambil guru pengajar dan belajar ke Indonesia, tapi sekarang berbalik. Maka harus ada rekontruksi sistem dan manajemen dan orientasi pendidikan yang jelas. Lain dari pada itu, keberhasilan sebuah pendidikan dan kegagalannya dapat dilihat dari out put sebuah sistem, manajemen, orientasi dan kurikulum pendidikan yang berlaku.&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri, walaupun tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih rendah dalam taraf internasional, sebagian anak bangsa sudah mampu menunjukkan kemampuannya dalam bidang sains, dengan menjuarai lomba fisika, kimia dan biologi. Tapi kendala yang dihadapi adalah kurangnya pemerataan pendidikan, terlihat pendidikan belum dirasakan oleh masyarakat miskin yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.&lt;br /&gt;Dunia pendidikan menjadi poin/faktor penting dalam meningkatkan martabat dan taraf hidup bangsa Indonesia. Ketika Presiden SBY terpilih, beliau mengalokasikan dana untuk bidang pendidikan -lumayan- tinggi, dengan menetapkan SPP gratis mulai tingkat SD sampai SLTP. Seharusnya pemerintah Indonesia mengawalinya dari dulu, sehingga tidak terjadi keterlambatan dalam perkembangan pendidikan dan taraf hidup masyarakat akan lebih meningkat.&lt;br /&gt;Untuk itu pendidikan tidak boleh dipandang sebelah mata, kalau sebuah negara akan mencapai kemajuan yang pesat dan mempunyai taraf hidup yang tinggi. Kebanyakan negara maju masalah pendidikan tidak menjadi problem, karena yang diprioritaskan pertama kali adalah bidang pendidikan. Dari situ muncullah sekolah-sekolah, universitas-universitas gratis dan beasiswa-beasiswa yang tidak hanya diperuntukkan warga negaranya sendiri, tapi juga warga negara lain. Kapan negara Indonesia bisa memberikan beasiswa ke warga negara lain?.&lt;br /&gt;Kemanakah arah pendidikan di Indonesia? Pendidikan di Indonesia yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan taraf hidup warganya belum terwujud, dan itu masih banyak kekurangan dengan dilihat dari out put pendidikan nasional, kalau dikalkulasikan berapa banyak lulusan sekolah-sekolah yang ada, tidak mempunyai pekerjaan, menjadi pengangguran, atau menjadi pembantu rumah tangga, atau menjadi TKI, TKW yang menjadi babu, pekerja kasar di negara lain, tidak mempunyai skill yang bisa diandalkan. Itulah potret out put pendidikan di Indonesia secara mayoritas. Maka negara-negara lain melihat bahwa martabat warga negara Indonesia di negara lain sangat rendah karena banyaknya warga negara Indonesia yang menjadi tenaga kerja di negara-negara maju.&lt;br /&gt;Orientasi dan arah pendidikan di Indonesia harus mengacu pada kultur dan budaya bangsa. Meskipun mengadopsi berbagai macam sistem dan metodologi dari Barat, kultur budaya masyarakat harus tetap dijaga. Dengan melihat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, seharusnya muatan pendidikan Agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah negeri tidak hanya 2 jam seminggu, sehingga anak-anak lebih memahami agamanya, dan menjaga balance antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Itulah pengaruh dan dampak pada out put kepribadian anak didik, demikian juga membentuk pola pikir yang benar, keseimbangan antara kecerdasan rasionallitas dan kecerdasan spiritualitas. Kalau kecerdasan emosionalitas terwujud dengan adanya berbagai macam kegiatan yang mendukung belajarnya.&lt;br /&gt;Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang terpelajar dan berpendidikan mempunyai akhlak dan tingkah laku yang kurang terpuji. Berapa banyak para koruptor dari orang-orang terpelajar? berapa banyak anak-anak terpelajar yang perbuatannya melanggar norma-norma agama? Berapa banyak berita yang terbit tiap hari mengupas masalah kriminal? Di mana letak keberhasilan pendidikan kalau masyarakat suatu bangsa kurang beradab dan berbudaya? Itulah beberapa pertanyaan yang perlu direnungkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Wallahu a’lam bish-showab. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-1946233033337246575?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/1946233033337246575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=1946233033337246575&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/1946233033337246575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/1946233033337246575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/03/perspektif-dunia-pendidikan-di.html' title='Perspektif Dunia Pendidikan di Indonesia'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R-PrSAZzrHI/AAAAAAAAABo/uArHhJV3nAs/s72-c/ACAERK1Q8CA1NCZUTCAJR5E39CAJ8E085CAP6J9CPCAL0I6XQCARQ6Y1PCAP9OMW6CADBX9DVCA6M8DJGCAAA4BLVCACCC9RYCAA5VVTJCAJOEKF9CADROVWICAS5YUFWCAFT49RFCAFIPJP0CA8UUC2W.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-647547061181308472</id><published>2008-03-19T11:59:00.002+05:00</published><updated>2008-03-21T23:38:03.660+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Neo kolonialisme di Era Globalisasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh: M.Ihsanuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prolog&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam diskursus kemerdekaan ada keterkaitan yang sangat erat dengan kolonialisme (penjajahan). Demikian juga tidak terlepas dari konteks permasalahan Timur (Orient) dan Barat (Occident), Timur yang identik dengan negara-negara yang berdomisili di benua Asia dan Afrika yang mayoritas penduduknya muslim. Sedangkan Barat identik dengan negara-negara di benua Eropa termasuk Amerika yang mayoritas penduduknya beragama Yahudi, Nasrani, ataupun Atheisme&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn1" name="_ednref1"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Kemudian muncul kolonialisme pada abad 13, setelah terjadinya perang salib. Maka mulailah para kolonialis Barat melakukan ekspansi militer ke benua Asia mulai dari Turki, Mesir, hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pada tahun 1914-1918 terjadilah perang dunia I&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn2" name="_ednref2"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; dan. Perang dunia II (1939-1945). Akhirnya timbul yang namanya Neo Kolonialisme (paradigma baru dalam penjajahan) yang lagi mengancam dunia Timur (khususnya negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam) sampai saat sekarang ini.&lt;br /&gt;Dari sini penulis ingin mencoba mengkaji secara singkat neo kolonialisme di era globalisasi ini, dengan melihat konteks historis munculnya kolonialisme hingga neo kolonialisme, paradigma dan karakteristiknya, kemudian dihubungkan dengan konteks neo kolonialisme di Indonesia dan diskursus upaya untuk melawan neo kolonialisme serta memerdekakan bangsa Indonesia dari intervensi dan ekploitasi kolonialis hingga terwujudnya kemerdekaan hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flashback dari kolonialisme ke Neo Kolonialisme&lt;br /&gt;Terma kolonialis dapat diartikan sebagai dominasi suatu negara terhadap negara lain, seringkali menggunakan cara agresi militer untuk mendapatkan suatu penguasaan wilyah. Terma ini tidak jauh beda dengan imperialisme, cuma kalau kolonialisme digunakan ketika suatu bangsa mengambil alih kontrol politik negara lain, sedangkan imperialisme mempunyai makna yang lebih luas, yang berarti sebuah aksi pengambilan kontrol terhadap negara lain baik dalam bidang politik maupun ekonomi, baik secara formal maupun informal.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn3" name="_ednref3"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari konteks sejarah peradaban dunia, latarbelakang munculnya kolonialisme berawal dari eksistensi kebangkitan Islam mulai abad ke-6 hingga ke-15. Puncaknya pada abad ke-15, Islam mencapai zaman kejayaannya. Dengan diprakarsai oleh Daulah Ustmaniyah (abad 14-20), Islam sebagai pusat peradaban sekaligus super power dunia, karena menguasai tiga samudera penting, yakni laut merah (di Timteng), Laut Putih (di Eropa/Balkan) dan laut hitam (di Asia Tengah). Dalam studi geopolitik terkenal teori “siapa yang menguasai daratan eurasia,&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn4" name="_ednref4"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; maka dia akan menguasai dunia”.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn5" name="_ednref5"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Sebelumnya, pada tahun 750-1258, Islam pada masa Daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad telah mencapai zaman keemasan. Dengan ditandai munculnya para filosof dan ulama’ muslim seperti dan berdirinya universitas Cordoba di Spanyol (968) sebagai pusat kajian keilmuan (matematika, science, medicine) dan disiplin ilmu-ilmu yang lain, juga sebagai pusat perekonomian dan peradaban.&lt;br /&gt;Pertama kali kolonialis Barat melakukan ekspansi militernya ke Timur, dengan motif ingin merebut Yerusalem dari tangan umat Islam melalui konstantinopel (sekarang Istambul) atau disebut perang salib&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn6" name="_ednref6"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; (abad 11-13). Hingga muncullah di Barat zaman Renaissance, zaman kebangkitan Barat setelah mereka menang dalam perang salib, yang sebelumnya mereka dalam hegemoni peradaban Islam selama kurang lebih 6 abad. Maka tidak heran kalau Barat (para kolonialis khususnya Italia, Jerman, Perancis, Inggris) merasa iri dengan zaman kejayaan peradaban Islam, sehingga perang salib dijadikan momentum yang sangat signifikan bagi Barat untuk meraih kejayaan dengan mentransfer segala macam produk peradaban Islam, khususnya dalam bidang literatur-literatur Islam yang didalamnya terkandung berbagai macam ilmu, termasuk sains maupun filsafat. Juga hasil alamnya sebagai modal untuk mengembangkan perekonomian dan perdagangannya.&lt;br /&gt;Menurut John W.cell, pada tahun 1450-1700 dianggap sebagai zaman eksplorasi. Ditandai dengan munculnya kompetisi antar negara-negara Barat untuk melakukan spekulasi ekspedisi ke benua lain dengan membangun pusat-pusat perdagangan dan benteng-benteng peperangan. Maka untuk mempermudah melancarkan ekspedisinya, mereka menggunakan sistem militer (peperangan) dan ekonomi perdagangan. Disamping itu, misi misionaris juga mempunyai peranan yang vital dalam kolonialisasi. Ekspansi kolonialis tersebut, dinavigatori oleh Vasco da Gama (Portugis) ke Benua Afrika dan Asia Selatan, dan Christofer Columbus (Italia) melewati laut atlantik hingga menemukan benua Amerika&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn7" name="_ednref7"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Kemudian diikuti oleh negara-negara kolonialis seperti Portugis, Inggris, Belanda, Spanyol, dan Perancis.&lt;br /&gt;Pada tahun 1700-1815 kolonialisme mengalami era imperium perdagangan oleh Barat. Dengan berbasiskan perdagangan laut di dua samudera, samudera Hindia dan Atlantik. Dengan didukung peralatan militer yang lebih maju, Barat bisa menguasai perdagangan dunia. Periode 1815-1870 sebagai masa imperialisme perdagangan bebas, Inggris sebagai penguasa perdagangan, hingga munculnya revolusi perancis, dan perang Napoleon di AS. Periode selanjutnya masa new imperialis, 1870-1941, periode ini terjadi transformasi motif penjajahan, yang sebelumnya motif ekonomi lebih dominan, berubah menjadi motif politik dan strategi militer serta ideologi, ditandai dengan munculnya kompetisi para kolonialis dalam memperkuat negara-negara koloninya dan merebut koloni negara lain. Dan muncul kolonis baru dari Asia yaitu Jepang.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn8" name="_ednref8"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjadi pearng dunia II (1939-1945), ada sebuah gagasan perdamaian dunia, dibentuklah sebuah lembaga perdamaian dunia, sebagai kelanjutan dari Liga bangsa-bangsa yang telah dirintis setelah perang dunia I oleh negara-negara besar seperti Perancis, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, dan Uni Soviet. Tapi AS belum bergabung, kemudian pecahlah perag dunia II, hingga munculnya PBB atas dasar gagasan presiden tiga negara (AS, Inggris dan Uni Soviet). Tapi ini tidak bisa merendam munculnya perang dingin, sebagai puncak PD II., antara blok Barat yang dipimpin AS, dan blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Faktor penyebab perang tersebut tidak lain adalah perbedaan ideologi dua negara super power, yakni ideologi sosialis marxis yang diakui oleh negara Uni Soviet dan ideologi kapitalis liberal yang dianut oleh negara AS. Perang dingin berakhir setelah naiknya Mikhail Gorbachev menjadi presiden Uni Soviet 1985. Dengan melakukan negoisasi politik dan merubah kebijakan luar negeri soviet, sehingga lama-kelamaan kekuatan ideology komunis sosialis runtuh..&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn9" name="_ednref9"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Implikasi dari runtuhnya Soviet, sebagai awal naiknya kekuatan tunggal super power dunia, yakni Amerika Serikat dengan ideologinya kapitalis liberal, dan demokrasi liberal menjadi penguasa dunia.&lt;br /&gt;Dengan berakhirnya perang dingin, stabilitas perdamaian internasional dikendalikan oleh PBB, sebagai lembaga internasional yang mengatur segala problematika yang terjadi di negara-negara dunia, baik dalam bidang ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, keamanan, hukum, dll. Tapi pada kenyataannya badan ini dikuasai oleh negara-negara pemilik modal (kaya) yang mempunyai hak veto, yakni AS, Inggris, Peransic, Cina, Soviet. Maka secara tidak langsung, para kolonialis akan melaksanakan aksi kolonialisasi dengan tidak menggunakan kekuatan militer, tapi menggunakan kekuatan ideologi, pemikiran, opini yang ditempuh dengan cara yang lebih halus melalui jalur diplomasi dan kebijakan luar negeri yang mana tidak lepas dari tawaran paket negara-negara kolonialis, yaitu nasionalisme, demokrasi dan sistem kapitalis liberal.&lt;br /&gt;Lahirnya neo kolonialisme, juga terinspirasi dan termotifasi dari epistemologi filsafat Barat, yang mencakup di dalamnya segala spesifikasi keilmuan dengan konsep dan framework Barat. Barat mencapai zaman pencerahan pada abad 18&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn10" name="_ednref10"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; dengan ditandai lahirnya filosof-filosofnya seperti tokoh Rasionalis Rene Descartes dan Spinoza, tokoh Politik Thomas Hobes dan John Locke, tokoh aliran Skeptisisme Pierre Bayle, Nicolas copernicus, Galileo, serta Emmanuel Kant dengan mottonya”dare to know” yang mempunyai ciri sebagai zaman kebebasan berpikir dan berekspresi. Juga Voltaire (1694-1778) seorang filosof perancis, dan Jean Jacques Rousseau (1712-1778) seorang filosof dalam bidang sosial dan politik, David Hume (1711-1776) filosof yang mengembangkan skeptisisme dan empirisme, dll. Pada abad 19 muncullah zaman romantisme, sebagai zaman perkembangan literature yang berkarakteristik dengan imajinasi kepercayaan, pendekatan subjektif, kebebasan berpikir dan berekspresi, dan dasar idealisasi. Bagi Barat zaman pencerahan merupakan zaman warisan terakhir di abad 19 dan 20, sebagai awal mula kemunduran gereja dan kemajuan sekularisme modern. Inilah kerangka dasar politik dan ekonomi liberal, sebagai momentum transformasi menuju kemodernan dan kebebasan bagi Barat. Revolusi Perancis 1779 dan Revolusi Amerika 1776 ikut memberikan konstribusi bagi negara-negara kolonialis untuk meletakkan dan mengkonstruksi ideologi yang kokoh untuk keberlangsungan kolonialisasinya hingga terwujud neo kolonialisasi di era globalisasi sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe-tipe Neo Kolonialis&lt;br /&gt;Motif dasar dari Neo Kolonialis yakni ingin melanggengkan misi penjajahannya, dengan berbagai macam cara dalam berbagai aspek berbangsa dan bernegara, baik dalam aspek ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan budaya. Dalam pencapaian misinya, para kolonialis Barat mengetahui seluk-beluk dan problematika suatu bangsa yang masuk wilayah jajahannya. Maka timbul tipe-tipe ataupun karakteristik neo kolonialisme, diantaranya :&lt;br /&gt;Pertama; dalam aspek ekonomi, mereka sengaja membentuk lembaga-lembaga donor seperti CGI, IMF, WTO dan World Bank. Itu sebagai sarana ataupun perantara untuk keberlangsungan hubungan antara kolonialis dengan negara jajahannya, dengan alasan memberikan pinjaman lunak kepada negara-negara yang baru merdeka, atau negara-negara berkembang. Tidak hanya sekedar itu, tapi negara-negara tersebut diiming-imingi sebuah model kehidupan modern, maka secara otomatis negara-negara tersebut ingin membangun negaranya secara cepat supaya tercapai komodernan bangsanya dengan cara meminjam dana ke IMF maupun CGI dan Worl Bank walaupun dengan bunga lunak dan diberi batas tempo yang lama dalam pelunasannya. Selain itu dipromosikannya pasar bebas, ini akan berdampak pada hancurnya ekonomi rakyat kecil, karena pemilik modallah yang akan menguasai pasar dengan harga yang murah dan kwalitas yang tinggi. Inilah karakteristik dari sistem kapitalis liberal. Juga didengungkannya privatisasi usaha-usaha milik negara, dan ini memperparah hancurnya ekonomi negara-negara berkembang.&lt;br /&gt;Kedua; dalam aspek pendidikan, sejak berakhirnya perang salib, para kolonialis sudah menjalin kerjasama dengan para ilmuwan dan misionaris, dengan membentuk kajian keTimuran (orientalis), mayoritas mereka mengkaji Timur secara subjektif, destruktif dan imajinatif. Karena kajian mereka bermotifkan kolonialisme dan misionarisme. Kajian mereka berputar pada kajian biografi Nabi Muhammad SAW, dakwah dan kenabiannya, teologi Islam, Syariat Islam, mencakup Al-Quran dan Al-Hadits, kekhalifahan dalam Islam dan sistem hukum, berbagai konfrontasi masyarakat Islam berdasarkan sejarah, kehidupan rasionalisme, bahasa arab, tradisi dan sastranya, sejarah Islam dan peradaban Islam. Selain itu, juga mengadakan aktivitas-aktivitas yang lain, seperti kegiatan penerjemahan, membuat daftar katalog dan indeks, penelitian, kodifikasi, percetakan, dan penerbitan, sistematisasi, pengkaryaan, spesifikasi sebagian jurnal berkala dengan nama Islam dan Timur&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn11" name="_ednref11"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;. Orientalis merupakan senjata yang lebih ampuh dibandingkan senjata militeristik yang diadopsi kolonialis dalam melancarkan dan melanggengkan kolonialisasinya di dunia Timur khususnya.&lt;br /&gt;Demikian juga, bisa ditafsirkan sebagai perang wacana dan gagasan maupun pemikiran (ghozwul fikri) untuk mereduksi teologi dan nilai-nilai Islam, serta menciptakan berbagai macam konsep dan sistem baru dalam segala aspek kehidupan. Maka untuk mentransfer dan memerankannya di dunia Islam, negara-negara kolonialis menggunakan fasilitas dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa di negara-negara koloninya, sebagai sarana transformasi keilmuwan yang berlandaskan sistem yang dianut oleh negara kolonialis tersebut, maka ketika mahasiswa tersebut kembali ke negaranya, dia akan mentransmisi sistem keilmuwan yang didapatkan untuk diaplikasikan di negaranya, maka ketika terjadi clash antara ideologi negaranya dengan negara kolonialis, maka ada tuntutan reformasi sistem, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan. Juga dengan mendirikan berbagai sekolah-sekolah ataupun universitas-universitas di negara-negara muslim . Dengan melihat realitas sekarang ini, mayoritas sistem pendidikan di setiap negara, mengadopsi sistem pendidikan modern yang mengacu sistem Barat, yang bercirikan adanya dikotomi keilmuwan antara sains dan agama, serta mengedepankan rasionalistis materialistis, tanpa diimbangi dengan spiritualitas.&lt;br /&gt;Ketiga; dalam aspek politik, para kolonialis telah bersepakat untuk melegalkan sistem demokrasi liberal dan kapitalisme global. Itu sudah menjadi sebuah trend sistem pemerintahan terpopuler setelah terjadinya dekonstruksi sistem-sistem yang berlaku sebelumnya. Juga sebagai awal puncak kejayaan AS sebagai negara super power setelah mengalahkan ideologi sosialis komunis di Uni Soviet. AS dengan gencar mempromosikan sistem ini melalui lembaga-lembaga yang dibentuknya, seperti PBB, IMF, CGI, dll. Sistem tersebut vis a vis teokrasi, sebagaimana yang telah diaplikasikan oleh umat Islam sendiri, hingga berakhirnya khilafah ustmaniyah. Kemudian muncul sistem pemerintahan monarkhi sebagai manifestasi sistem teokrasi, namun mengalami transformasi dan akulmulasi menjadi monarkhi demokratis, sebagaimana yang diterapkan dibeberapa negara pada era sekarang ini. Dalam memahami demokrasi terkandung makna kedaulatan ditangan rakyat, keadilan, hak-hak asasi manusia, feminisme, yang intinya bersifat freedom, dalam artian kebebasan masyarakat untuk bertindak, berpikir, berekspresi, asalkan tidak bertentangan dengan konstitusi publik dan hak asasi manusia. Ketika sistem ini diterapkan dalam suatu negara, maka konskwensi logisnya munculnya sekularisme dan kapitalisme global liberal, kekuasan negara dipegang oleh pemilik modal, karena bisa memobilisasi massa dengan modalnya serta menhalalkan berbagai cara dalam meraup dan mencapai kembali modalnya.&lt;br /&gt;Keempat; dalam aspek sosial budaya, dalam era kolonialisasi militeristik, para kolonialis telah mewariskan budaya dan sistem sosial yang berkembang di negara kolonialis, untuk diadopsi di negara-negara koloninya. Maka tidak heran di negara-negara bekas jajahan, masih mewarisi dan menerapkan sitem sosial dan budaya kaum kolonialis. Dalam era globalisasi sekarang ini, neo kolonialisme dalam aspek sosial budaya merupakan realisasi dari sebuah sistem politik dan ekonomi global, yakni ideologi demokrasi liberal dan kapitalisme global. Konstruksi sistem sosial budaya masyarakat tidak lain bersumber dari ideologi masyarakat. Pada hakekatnya, sistem sosial budaya publik bersifat lokalitas dan pluralitas, tapi ketika sebuah ideologi diaplikasikan sebagai pondasi ataupun standar sebuah sistem sosial budaya, maka implikasinya terbentuknya sebuah trend sistem sosial budaya yang harus diikuti, karena sudah mendapatkan legitimasi dari publik. Itulah realitas sekarang ini, hegemoni kolonialis terhadap negara-negara koloninya (yang mayoritas negara Muslim) dengan kekuatan sistem politik dan ekonominya secara bertahap berdampak pada akumulasi dan akulturasi budaya, hingga budaya tersebut teralienasi dari bangsanya.&lt;br /&gt;Dalam tranformasi sistem sosial budaya, terjadi kompetisi antar individu, kelompok, dan bangsa dalam mencapai budaya dan peradaban yang lebih tinggi. Dalam hal ini terjadi sebuah teori tesis-anti tesis yang menghasilkan sintesa, yakni persaingan budaya untuk menuju kemodernan hingga tercapai sebuah perpaduan budaya. Filsafat inilah yang menjadi dasar dari teori clash of civilization yang dikemukakan Samuel P. Huntington dan Francis Fukuyama yang mengakhiri pertarungan (dialektika historis) dengan menggulirkan teori the end of history, yang menganggap Demokrasi-Liberal dan Kapitalisme Global sebagai pemenang sejarah. Sebab menurut Fukuyama bahwa setelah abad enam belas dan tujuh belas masehi proses penciptaan ide dalam sejarah telah berakhir. Dengan demikian, era Postmodernisme diklaim sebagai era the end of history ditandai dengan adanya penyatuan ideologi dengan segala aspeknya, yang direpresentasikan dalam realitas kehidupan umat dan bangsa yang bercirikan kebebasan. Sebab paham negara bahwa Demokrasi Liberal akan dijadikan panutan oleh negara-negara di dunia ini, dan konflik yang terjadi antara individu dan sosial akan berakhir karena kebebasan bagi setiap warga telah dijamin oleh negara dengan Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn12" name="_ednref12"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Maka ketika sebuah negara mengamini ideologi tersebut, secara otomatis dia masuk dalam perangkap grand theory neo kolonialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neo-kolonialisme dalam konteks ke-Indonesiaan&lt;br /&gt;Pada usia kemerdekaanya yang ke-62 ini, bangsa Indonesia belum merasakan kemerdekaan secara hakiki. Secara de jure, Indonesia memang sudah merdeka, karena telah diakui oleh dunia, tetapi secara de facto, kita masih dijajah. Dengan melihat realitas yang ada, bangsa Indonesia masih dalam hegemoni, dominasi, dan cengkeraman para kolonialis yang bersifat eksploitatif, destruktif, dan intervensionisme. Juga termasuk problematika bangsa yang tidak kunjung reda, serta berbagai macam krisis yang terus menjangkiti bangsa, baik krisis ekonomi, krisis moral, krisis keteladanan dan panutan umat. Itu semua merupakan efek dan konskwensi dari eksistensi neo kolonialisme di tubuh negara RI. Kalau kita kaji lebih dalam dengan melihat realitas bangsa dari berbagai aspek berbangsa dan bernegara, akan menemukan pelbagai problematika bangsa yang itu memang sengaja disetting sedemikian rupa oleh para kolonialis untuk melanggengkan misi kolonialis, misionaris, maupun ateisnya. Itu dapat dibuktikan dalam berbagai aspek, diantaranya:&lt;br /&gt;Pertama; dalam aspek ekonomi. Indonesia masih dililit utang luar negeri. Sampai saat ini pemerintah belum bisa merealisasikan kesejahteraan rakyatnya. Ternyata, “prestasi” luar biasa Indonesia dalam berhutang tercatat ketika merdeka telah menanggung beban hutang sebesar US$ 4 miliar, hingga saat ini hutang Indonesia sebesar US$ 78 miliar atau Rp 1333,93 triliun, Astaghfirulloh!, jika hutang tersebut ditanggung oleh setiap penduduk, maka setiap kepala dari penduduk Indonesia yang berjumlah 230 juta jiwa ini menanggung beban hutang sebesar Rp. 5,8 juta per kepala. Dan hutang tersebut belum termasuk utang luar negeri BUMN (US$ 4.8 miliar), swasta (US$ 45,5 miliar), dan utang pemerintah (US$ 60 miliar). Dengan beban utang luar negeri tersebut, secara implisit terkandung intervensi asing, sehingga setiap kebijakan ekonomi maupun politik harus berdasarkan dikte dari badan donor seperti CGI, IMF dan World Bank yang merupakan reinkarnasi ekonomi negara-negara pemodal. Selain itu juga meraih “prestasi” negara terkorup di dunia.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_edn13" name="_ednref13"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Kedua; dalam aspek pendidikan, Neo Kolonialisme menjadikan pendidikan sabagai sarana dan obyek yang paling jitu dan strategis dalam melancarkan misinya. Dengan menggunakan dua cara, pertama; pemberian beasiswa dan pembinaan mahasiswa-mahaiswa yang berprestasi untuk dibina dan dididik di negara-negara kolonialis, kemudian sebagai transformator konsep-konsep epistemologi segala keilmuwan Barat yang berideologikan Barat untuk diaplikasikan di negaranya. Kedua; warisan sistem pendidikan kolonialis, dengan diberlakukannya dikotomi keilmuan antara yang bersifat umum dan religius. Juga direduksinya alokasi waktu untuk materi keagamaan, ini menambah dangkalnya pengetahuan keagamaan anak didik. Dari dua faktor tersebut, berdampak pada output pendidikan yang bersifat rasionalistis, materialistis, individualistis dan memarginalkan nilai-nilai spiritualitas. Tingkat pendidikan di Indonesia juga masih rendah dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, seperti Malaysia walaupun umur kemerdekaannya lebih muda, akan tetapi dalam taraf perekonomian dan pendidikan lebih maju dibandingkan Indonesia, disebabkan Malaysia memprioritaskan pembangunan moral dan pendidikan bangsa lebih diutamakan daripada pembangunan fisik negara.&lt;br /&gt;Ketiga; aspek politik, percaturan perpolitikan di Indonesia mengalami reformasi setelah runtuhnya rezim Suharto, dengan menerapkan sistem demokrasi Pancasila, tapi dalam realitanya tidak beda dengan sistem pemerintahan monarkhi. Namun demikian, gerakan reformasi menggulingkan rezim Suharto, kurang membawa Indonesia ke arah yang lebih menjanjikan, akan tetapi berimplikasi terhadap timbulnya demokrasi liberal sebagaimana yang diterapkan di AS. Maka secara tidak langsung, Indonesia telah menjadi negara boneka AS, yang berkarakteristik mengagungkan kebebasan, baik dalam berbicara, berekspresi, berkarya maupun pola berpikirnya, dengan menggunakan standar rasionalitas dan hukum publik. Inilah sebagai bukti bahwa dalam tubuh negara ada ruh-ruh neo kolonialisme yang akan membahayakan bangsa, karena Ideologi dan konteks Indonesia tidak seperti AS. Dengan legitimasi publik untuk diterapkannya demokrasi liberal, membawa dampak yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam aspek ekonomi akan muncul kapitalisme liberal. Pemilik modallah yang akan menjadi penguasa.&lt;br /&gt;Keempat; dalam aspek sosial budaya, Indonesia mengalami transformasi dan akulturasi sosial budaya dengan budaya global yang bersumber dari peradaban Barat. Ini dapat dilihat dari life style dan fashion mayoritas masyarakat Indonesia yang bersifat bebas, materialistis, individualistis, konsumtif, hedonis, dan feodalis yang selalu mengikuti trend budaya Barat. Ini berimplikasi pada tereduksinya dan teralienasinya tatanan sosial dan budaya bangsa yang bersifat keTimuran yang bersumber dari agama Islam, hingga hilangnya jati diri dan identitas bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan menuju kemerdekaan hakiki&lt;br /&gt;Indonesia merupakan negara kepulauan yang multikultur, agama, isme, ras, suku, dan daerah. Maka rawan akan terjadinya ancaman konflik internal, disintegrasi bangsa, diskriminasi golongan dan ketidakadilan. Atas dasar keanekaragaman itulah disepakatinya Pancasila sebagai ideologi bangsa dan pandangan hidup (wolrdview) masyarakat Indonesia yang menjiwai segala aspek kehidupannya. Pada hakekatnya, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam (88%), akan tetapi ideologi bangsanya bukan Islam, tidak lain hanyalah sebagai salah satu solusi untuk mencapai kemaslahatan umat dan integritas bangsa. Jadi ideologi negara kita dibangun atas dasar jalan tengah dan kemaslahatan, juga untuk menghormati golongan minoritas, bukan dari representatif agama mayoritas penduduk. Namun demikian, ideologi inilah yang menentukan warna, corak sistem sosial, budaya, politik dan ekonomi bangsa.&lt;br /&gt;Realitas bangsa dengan ideologinya tidak memuluskan perjalanan bangsa untuk mencapai kemerdekaan hakiki yang diidam-idamkan, tapi tanpa disadari malah terjerat dan terperangkap dalam jeratan dan perangkap neo kolonialisme dengan mendapat legitimasi dari bangsanya sendiri. Maka sekarang bagaimana bangsa kita bisa terlepas dari jeratan dan perangkap tersebut hingga mencapai kemerdekaan hakiki?&lt;br /&gt;Inilah sebuah fenomena klassik yang selalu gagal dalam prosesnya, sebagaimana yang dialami negara-negara muslim lainnya. Dengan melihat konteks neo kolonialisme di Indonesia, maka bisa diambil langkah-langkah sebagai berikut : Pertama; dalam aspek ekonomi, pemerintah Indonesia harus tegas dalam menentukan sistem dan kebijakan perekonomian di Indonesia, dengan landasan jelas, tidak mengadopsi sistem sosialis marxis dan kapitalis liberal, tapi menerapkan sistem ekonomi pancasila, yang mengadopsi sistem ekonomi syariah Islam karena mayoritas penduduknya muslim. Diantara solusi praktisnya yaitu: pertama; penghentian hutang luar negeri dan mempercepat pelunasan hutang, serta memutus hubungan dengan IMF, Kedua; adanya penyadaran terhadap masyarakat dan tuntutan resistensi terhadap struktur penindasan yang terjadi melalui kebijakan-kebijakan lembaga-lembaga donor (IMF, WTO, World Bank, CGI) yang kurang menguntungkan bangsa, malah yang terjadi sebaliknya, seperti; eksploitasi sumber daya alam Indonesia oleh pihak asing, privatisasi aset-aset BUMN, liberalisasi pasar yang berakibat pada terjadinya konsentrasi penguasaan modal pada segelintir orang dan liberalisasi perdagangan yang mengakibatakan munculnya penguasaan sektor industri oleh kelompok yang terbatas, karena itu semua sebagai ciri dasar dari formasi sosial neo-liberal yang menempatkan pasar sebagai aktor utama. Sehingga pengelolaan ekonomi selanjutnya tunduk pada mekanisme pasar yang fluktuatif. Ketiga, adanya internalisasi ekonomi Negara. Keempat, pemberlakuan ekonomi political dumping. Kelima, maksimalisasi pemanfaatan sumber daya alam dengan pemanfaatan tekhnologi berbasis masyarakat lokal (society-based technology). Keenam; lebih mengutamakan dan memihak kepada kepentingan umat, juga pelaku usaha kecil dan menengah.&lt;br /&gt;Kedua; dalam aspek politik dan pendidikan. Indonesia secara kultur dan tingkat pendidikan masyarakat belum ada kompatibilitas dan keharmonisan untuk diterapkan demokrasi liberal sebagaimana yang diterapkan di AS, dan memang itu tidak sesuai dengan ideologi dan kultur bangsa. Maka paling tidak perlu adanya modifikasi sistem demokrasi itu sendiri, dengan mengeliminasi unsur-unsur yang tidak sesuai dengan kultur Islam dan pandangan hidup bangsa. Sedangkan kebijakan Luar Negeri negara, seharusnya mengutamakan kepentingan umat (Islam), tapi realitas pemerintahan sekarang, kebijakannya cenderung mengutamakan kepentingan politiknya dan pelaku bisnis (pasar) yang berdampak pada kapitalisme global. Dalam aspek pendidikan, dengan reformasi sistem dan kurikulum pendidikan nasional, dengan cara; pertama; eliminasi dikotomi keilmuan, antara ilmu pengetahuan umum dan agama, kedua; filterisasi epistemologi keilmuan Barat yang mayoritas digunakan sebagai referensi utama dan standarisasi keilmuan, dengan cara komparasi dengan epistemologi Islam, terutama dalam ilmu-ilmu politik, ekonomi dan sosial. Ketiga; membentuk kurikulum yang mengutamakan pembentukan karakter dan akhlaq serta pola pikir yang benar dengan berlandaskan ideologi yang benar (Islam).&lt;br /&gt;Ketiga; dalam aspek sosial sosial budaya, Indonesia mengalami problematka sosial yang kompleks, seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial sosial yang sangat tinggi antara kaya dan miskin, kriminalitas, kerusakan moral, pergaulan bebas, dll. Diantara penyebabnya adalah kesalahan sistem dan kurikulum pendidikan nasional dan sebagai dampak arus globalisasi dan kapitalisme global yang melanda bangsa tanpa resistensi dan filterisasi dari pemerintah dan masyarakat. Maka disini peran pemerintah sangat diperlukan untuk mengkontrol media massa, baik media cetak maupun elektronik, karena dalam konteks realitas di Indonesia khususnya, media massa merupakan salah satu sarana yang mempunyai peran yang sangat dahsyat dalam transformasi sosial budaya bangsa. Dengan dalih kemodernan, kultur Barat sesuatu yang dianggap sakral, yang harus diikuti dengan digemborkannya lewat media massa. Inilah yang menyebabkan kultur bangsa mengalami distorsi hingga akhirnya tereliminasi oleh budaya yang bersumber dari peradaban Barat. Maka ketika bangsa masuk dalam ranah kebebasan, sudah harus ada hukum atau UU yang mengaturnya dengan berlandaskan ideologi bangsa dan juga ideologi mayoritas umat, juga di dukung dengan peran dan kontrol pemerintah, ulama, dan publik. Sedangkan dalam masalah kemiskinan, pemerintah dituntut untuk memperhatikan kehidupan masyarakat miskin, karena penduduk Indonesia 17,7 % dari 230 juta jiwa masih dalam taraf hidup miskin. Diantara solusinya yaitu pemerintah dan para ulama mempopulerkan berzakat atas harta yang dimiliknya bagi masyarakat muslim.&lt;br /&gt;Konsep-konsep tersebut diatas merupakan sebuah solusi alternatif yang mendekati teori praktis untuk bisa diterapkan dalam mencapai kemerdekaan hakiki. Pada hakekatnya, solusi yang menjanjikan dan menjamin adalah ketika bangsa ini telah berideologikan Islam, yang telah mencakup segala sistem dan aspek kehidupan sebagaimana yang diajarkan Rosululloh SAW. Akan tetapi yang menjadi pokok permasalahan adalah pemahaman umat Islam sendiri yang parsial terhadap agamanya, demikian juga terpolarisasi oleh sekte-sekte dan madzhab-madzhab Internal dan isu-isu global, maka timbullah opini Islamophobia. Negara-negara muslim sendiri takut untuk menerapkan sistem dan hukum Islam di negaranya sendiri, apalagi negara-negara kolonialis. Padahal Islam adalah sebuah system yang universal (komprehensif, totalitas, dan integral). Mencakup berbagai aspek hidup dan kehidupan yang termasuk didalamnya negara dan pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;Neo kolonialisme sudah mengakar di tubuh negara-negara muslim, termasuk Indonesia. Sesuatu kalau sudah mengakar sulit untuk dihilangkan, kecuali harus dicabut dari akar-akarnya. Berarti haruskah ada gerakan revolusi untuk negara kita Indonesia, Sebagaimana revolusi Iran yang diprakarsai oleh Ayatulloh Khumaini? Ataukah dengan menafsirkan Islam dengan Kiri Islamnya Hasan Hanafi? Kedua-duanya kurang sinkron untuk diterapkan di Indonesia sekarang ini. Sebagai langkah dasar yang harus diperbaiki untuk mencapai kemerdekaan hakiki yakni tajdid dan islah pola pikir dan pemahaman bangsa Indonesia terhadap Islam dan negaranya dengan memposisikan Islam sebagai ideologi dan pandangan hidup (worlview), sedangkan negara sebagai wadah kehidupan dan perjuangan.&lt;br /&gt;Wallohu a’lam bishowab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat: Hamid Fahmy Zarkasyi, “Memahami Barat” , Majalah Islamia, Vol II, No 2,2007.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; kekuatan pusat gabungan antara negara German, Austria, Hungaria, dan Bulgaria melawan kekuatan sekutu yang terdiri dari 28 negara yang mencakup didalamnya Inggris, Perancis, Rusia, Italia dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat, John W. Cell "Colonialism and Colonies." Microsoft® Student 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Eurasia adalah bagian dari daratan eropa yang menyambung langsung ke Asia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref5" name="_edn5"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat: Sapto waluyo, Laporan Khusus; Makar Mengoyak Imperium Islam, Majalah SAKSI, No. 1 thn IX, 9 November 2006&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref6" name="_edn6"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Karen Amstrong, Holy War, The Crusades and Their Impact on Today’s World, (Anchor books), 12 &amp;amp; 415&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref7" name="_edn7"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat John W. Cell, Colonialism and Colonis, op.cit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref8" name="_edn8"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref9" name="_edn9"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Lawrence Freedman, Defense Planning after the Cold War, Microsoft® Student 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref10" name="_edn10"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat "Age of Enlightenmen.", Microsoft® Student 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref11" name="_edn11"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Dr. Adnan M. Wizan, Akar Gerakan Orientalisme, dari perang fisik menuju perang fikir, Fajar Pustaka Baru Yogyakarta, hal: 35-36.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref12" name="_edn12"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Ahmad Sahidin, Membaca Arus Neo Kolonialisme Budaya, lateralbandung.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7358162931740909181#_ednref13" name="_edn13"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Lihat Ahmad Fadli, Stop Utang atau Mati, Kolom Mahasiswa, Majalah SAKSI, No. 1 thn IX, 9 November 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan:&lt;br /&gt;1. Adnan M. Wizan, Akar Gerakan Orientalisme, dari perang fisik menuju perang fikir (terj), Fajar Pustaka Baru Yogyakarta&lt;br /&gt;2. Majalah Islamia, Melacak Akar Peradaban Barat, Vol. III No. 2 / 2007&lt;br /&gt;3. Majalah Saksi, Makar Mengoyak Imperium Islam, No. 1 Tahun IX/ 9 November 2006&lt;br /&gt;4. Anjar Nugroho, Ideologisasi Islam, Jalan Menuju Revolusi (Pemikiran Ali Syariati), pemikiranislam.wordpress.com&lt;br /&gt;5. Microsoft ® Encarta ® 2007&lt;br /&gt;6. Ahmad Sahidin, Membaca Arus Neo Kolonialisme Budaya, lateralbandung. wordpress.com&lt;br /&gt;7. Karen Amstrong, Holy War, The Crusades and Their Impact on Today’s World, Anchor books&lt;br /&gt;8. ‘Azm Attamimi, As-siyasah asy-Syar’iyyah fil Islam, Liberty for Muslim World&lt;br /&gt;9. Yusuf Qardhawi, Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (uraian ilmiah 20 prinsip Hasan Al Banna, Totalitas Islam (terj.), Robbani Press &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-647547061181308472?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/647547061181308472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=647547061181308472&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/647547061181308472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/647547061181308472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/03/neo-kolonialisme-di-era-globalisasi.html' title='Neo kolonialisme di Era Globalisasi'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-2033535523930097227</id><published>2008-03-19T11:59:00.001+05:00</published><updated>2008-03-21T23:32:54.830+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran'/><title type='text'>Menafsir Agama, Antara Tekstual Dan Kontekstual*</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : M. Ihsanuddin&lt;br /&gt;Penafsiran agama bukanlah hal yang baru dalam diskursus pemikiran kontemporer. Sejak lama, agama telah menjadi perbincangan yang hangat bagi para tokoh – tokoh dari berbagai macam bidang ilmu, baik sosiologi, psikologi, antropologi, ekonomi, maupun politik. Semua aspek tersebut tidak lepas dari yang namanya agama. Dalam perkembangannya, seiring dengan lajunya arus budaya, pemikiran, peradaban - yang didominasi oleh budaya dan peradaban barat yang telah berkembang sejak akhir abad 16 - berimbas pada terwujudnya akulturasi, assimilasi budaya, gerakan pemikiran yang menjurus pada sekularisasi dan liberalisasi, dan juga membawa dampak yang cukup besar bagi kelangsungan dan eksistensi agama, baik agama Islam maupun non Islam. Agama yang mulanya bersifat esoteris, transenden, yang mempunyai otoritas kebenaran, tereduksi menjadi sebuah institusi yang bersifat humanis, relatif, dengan hilangnya elan vital dan esensi dari sebuah pedoman dan jalan hidup. Agama disetir oleh realitas sosial, dituntut untuk bisa merakyat, sesuai dengan fenomena dan sosio historis masyarakat yang ada, dengan tidak lagi mengindahkan nilai-nilai normativitas teks, yang pada akhirnya akan tercipta sebuah agama baru yang berbasiskan realitas sosial. Inilah salah satu fenomena yang terjadi pada era posmodernitas, eksistensi agama semakin redup dan termarjinalkan. Bagaimana nasib agama nantinya?, apakah akan mati dan tidak mendapat ruang lagi? Dan bagaimana agama menghadapi tuntutan realitas sosial yang selalu mengalami evolusi sesuai dengan kemajuan zaman?&lt;br /&gt;Disini penulis mencoba menafsirkan kembali makna dari sebuah agama, baik dipandang dari segi tekstual maupun kontekstual atau realitas sosial masyarakat, dan fenomena agama yang sedang berkembang, terutama yang berkenaan dengan problematika teologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna agama&lt;br /&gt;Pada hakekatnya, makna agama masih menjadi sebuah dialektika para pemikir dari berbagai bidang ilmu, terutama para teolog, sosiolog dan antropolog, sehingga makna agama mengalami problematika penafsiran, saking banyaknya background penafsirnya. Juga berakibat pada berbagai macam pemahaman dalam penafsiran agama. Walaupun demikian, dengan melihat fenomena dan realitas yang ada, agama tetap mempunyai batasan makna. Secara normatif, agama dilihat dari aspek tesktual, yang berdasarkan dalil-dalil Ilahi, terutama dalam kitab suci Al-Quran – yang tetap pure dan otentik-terdapat + 80 ayat yang menyebutkan kalimat "diin", diantara maknanya yaitu balasan (reward) (QS:1;4), ketaatan dan ibadah (QS:2;193), agama Islam (QS:2;256), petunjuk hidup meliputi aqidah, syariat, dan akhlaq (QS:3;19) (QS:3;85), undang-undang, peraturan dan syariat (QS:12;76) hukum Allah (undang-undang samawi) (QS:24;2), metode dan jalan (QS:109;6), aqidah dan millah (QS:42;13). Menurut DR. Nabil Muhammad Taufik As-samalutiy dalam bukunya Ad-Diin wal bina' al-ijtima'i, agama merupakan sebuah determinasi ilahi yang menunjukkan kepada keyakinan yang benar, dan kebaikan dalam berbuat dan bermua'malah. Sedangkan menurut Abul A'la Al-Maududi dalam dirosah-nya yang berjudul Ad-diinul qoyyim mengatakan bahwa Islam adalah sebuah metode hidup dalam berfikir dan berbuat, juga berarti ketaatan manusia kepada Tuhannya, keyakinan dan kepasrahan hanya kepada-Nya. Dengan demikian, agama secara tekstual tidak bisa diartikan secara parsial, sekedar keyakinan kepada suatu dzat yang mempunyai kekuatan ghaib atau hubungan antara manusia dengan Tuhan, akan tetapi mempunyai makna yang lebih luas sebagai petunjuk hidup yang mencakup aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan agama dilihat dari sudut pandang kontekstual sebagaimana penafsiran para filosof barat, baik sosiolog, antropolog, psikolog, maupun fenomenolog, terdapat dua aspek, pertama aspek psikologi yaitu kondisi subjektif atau kondisi internal orang yang bergama (keyakinan kepada yang disembah). Aspek yang kedua yaitu aspek eksternal atau realitas obyektif. Ini kebanyakan menjadi pembahasan di dalam sosiologi, yang meliputi tradisi masyarakat, seni ( puisi, syair, prosa), budaya-peradaban, cerita, dongeng, dan berbagai macam keyakinan mereka. Mereka menafsirkan agama dengan istilah "religion" berdasarkan background ilmunya, diantaranya; menurut Max Weber (1864 – 1920)-sosiolog dari Jerman yang mengkritik sistem kapitalisme-marxis)-agama merupakan bagian dari institusi sosial, yang membentuk dan mengatur sebuah masyarakat. Juga mengatakan bahwa agamalah yang berjasa melahirkan perubahan sosial yang paling spektakuler dalam sejarah peradaban manusia. Sedangkan menurut Kant (1724-1804) dalam bukunya (Ad-diin fi hudud Al-'aql,terj) yaitu perasaan yang timbul untuk mentaati dan melaksanakan perintah Tuhan. Herbert Spencer (sosiolog dari Inggris 1820-1904) dalam bukunya (Al-Mabadi' Al-Aula terj.), unsur pokok dalam agama adalah kekuatan transenden yang tidak mungkin dibatasi oleh tempat dan waktu. Menurut antropolog Tylor, agama merupakan keyakinan akan adanya ruh (animisme). Max Muller (ahli bahasa dari Jerman 1823-1900) menafsirkan agama sebagai persepsi entitas yang terbatas yang hanya mampu diwujudkan dengan perasaan. Emile Durkheim (1859-1917) dalam bukunya (Asy-syuwar al-awaliyah lilhayah ad-diniyah"terj.) agama merupakan kumpulan orang yang bersandarkan pada keyakinan dan perbuatan yang berhubungan dengan sesuatu yang suci, atau bisa dikatakan setiap agama berdasarkan pada dua aspek yang berbeda, pertama aqidah (kondisi pikir dan sketsa akal), kedua ibadah (prinsip-prinsip praktis yang berhubungan dengan pendekatan diri terhadap yang disembah).&lt;br /&gt;Berangkat dari asumsi-asumsi tersebut diatas, secara umum agama merupakan sebuah konsep keyakinan atas dasar ketaatan, kepasrahan dan ibadah terhadap adanya wujud Tuhan (dzat ilahi) yang suci, yang mempunyai kekuatan ghaib. Disamping itu, agama mempunyai batasan makna, setidaknya terdapat lima elemen pokok yang saling berkaitan, pertama; ketuhanan (teologis), kedua; adanya dzat, ketiga; keyakinan kepada sesuatu yang ghaib (sacred), keempat; kekuatan dinamis dan efektif. Kelima; mempunyai kekuatan yang bisa mengabulkan permintaan dan menyelesaikan permasalahan serta melindungi manusia dari segala gangguan. Akan tetapi makna agama yang paling komprehensif dan universal adalah menurut Islam itu sendiri, yang tetap bersifat tekstual dan kontekstual, walaupun Islam sendiri mangakui keberadaan agama-agama selain Islam. Islam sebagai penyempurna syariat-syariat Nabi sebelumnya. Dalam Al-Quran disebutkan : "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS;Ali Imran: 85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika Agama&lt;br /&gt;Sungguh menarik memang, dialektika klassik akan eksistensi agama ditengah kehidupan masyarakat global yang serba majemuk ini, tarik ulur antara tuntutan agama dengan teologi inklusif dan eksklusif, antara liberalisme dan fundamentalisme, antara konservatif dan moderat. Semua itu berangkat dari problematika yang dihadapi agama, terutama agama-agama monoteisme. Fenomena ini muncul akibat dari tuntutan peranan agama dalam tatanan sosio-historis masyarakat, sejauhmana agama berperan dalam membangun kehidupan masyarakat yang selalu mengalami evolusi dalam berbagai macam aspek kehidupan. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, wacana agama dengan segala problematika, peranan dan tuntutannya dalam mengatur kehidupan manusia, selalu mengalami evolusi. Setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan evolusi tersebut, pertama pemahaman umat terhadap agamanya termasuk kitab sucinya, kedua, jarak antara turunnya wahyu (risalah kenabian) dengan umatnya. Ketiga realitas sosial (budaya, pengetahuan, teknologi, pemikiran) masyarakat yang selalu berubah. Keempat lahirnya teori-teori ilmu pengetahuan sosial (paradigma sosial) yang merupakan produk aliran-aliran filsafat barat, setidaknya terdapat empat kerangka ilmu tersebut; pertama positivisme logik, kedua rasionalisme kritis, ketiga empirisme analitis, keempat hermeneutika dan konstruktivisme kritis. Bangunan ilmu inilah yang mengakibatkan destruksi dan evolusi agama, terutama teori hermeneutika dan konstruktivisme kritis yang menimbulkan slogan relativisme yang di ploklamirkan oleh generasi zaman postmodern di Barat. Slogan "semua adalah relatif" yang berarti tidak ada kebenaran mutlak, kalau diaplikasikan dalam pemahaman agama, maka hancurlah sendi-sendi agama itu, tidak mengakui wujud kemutlakan Tuhan dan firman-Nya, kebenaran, moralitas, nilai, baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka, tergantung siapa yang menilainya. Itulah firman tanpa Tuhan, dan sabda tanpa Nabi. (lih. ISLAMIA Vol 3 No 1, h. 118)&lt;br /&gt;Pada hakekatnya, konsep teologis agama-agama samawi adalah monoteisme, sebagaimana Allah telah menjadikan tiap umat aturan dan jalan yang terang (Al-Maidah:48), masing-masing umat sejak dari Nabi Adam As-manusia pertama di ciptakan Allah- sampai Nabi Muhammad SAW mempunyai syariat sendiri, akan tetapi tetap dalam satu akidah (monoteisme) yaitu tauhid dan ikhlas kepada Allah, walaupun Allah sendiri mampu menjadikan satu umat dengan syariat dan jalan yang sama, kalau Dia menghendakinya, akan tetapi itu untuk menguji manusia .(lihat tafsir Ibnu Katsir, bab 3, juz 3, hal.129-130, Maktabah Syamilah). Dalam perkembangannya, problematika yang menimpa umat Nabi Musa dan Nabi Isa, diantaranya problem penafsiran teksnya (kitab sucinya) dan konsep teologisnya, terbukti dengan mudahnya umat Yahudi dan Nasrani menafsirkan kitab sucinya disesuaikan dengan keinginan dan realitas umat, yang pada akhirnya menghasilkan konsep teologis yang salah, misalkan trinitas pada agama Kristen. Lain dari pada itu, di dalam Islam sendiri, adanya pemahaman krusial dalam menafsirkan istilah ahlul kitab, yahudi, Nasrani, Shabiin, yang disebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran, diantaranya, Al-Baqarah 62, Al-Maidah 69, Al-Hajj 17. (lih. Islamia, Thn I No 4, Tafsir Ayat-Ayat Ahlul Kitab, h.81-90). Biasanya ayat-ayat ini dijadikan sandaran bagi para penggagas pluralisme agama dalam menafsirkan agama dalam berbagai macam terminologi, dengan istilah konvergensi agama-agama (the transcendent unity of religions), ataupun the common vision. (lih. Teologi Inklusif Cak Nur, kompas, 2001, h.6), maka dalam menafsirkan ayat-ayat suci Al-Quran, sangat diperlukan disiplin prinsip dan kaidah ilmu tafsir, dan juga merujuk pada kutub at-tafaasir.&lt;br /&gt;Munculnya reinterpretasi agama terutama dalam problematika teologis (yang menjadi elan vitalnya agama) tidak lain disebabkan oleh adanya fenomena keberagamaan dan realitas sosio-historis masyarakat yang ada, dimana agama dijadikan jargon kemunduran, keterpurukan, "kambing hitam" terjadinya konflik, komoditas politik, sebagai pemicu kerusuhan dan penyebab ketertindasan, dll. Maka tidak heran kalau para pemikir (filosof &amp;amp; intelektual) dan teolog ingin mencari format baru, bagaimana format agama yang selalu kontekstual, ideal, humanis, membawa kedamaian dan diterima oleh semua kalangan, diantaranya; proyek teologi inklusif Cak Nur (Alm.) yang berangkat dari fenomena teologi eksklusif, ambil contoh gereja kristen katolik dengan doktrinnya "No salvation outside the Church" (tidak ada keselamatan di luar gereja) yang sarat dengan klaim kebenaran (claim of truth) sehingga timbul gerakan reformasi gereja yang merubah teologinya menuju teologi inklusif, dengan asumsi dasar "keselamatan tidak menjadi monopoli umat kristiani". Demikian juga muncul teologi pluralis liberatif, dengan jargonnya solidaritas (dialog) antar-iman yang mengarah kepada proeksistensi pluralitas, yang dipresentasikan oleh Dr. Farid Esack (pemikir Islam pluralis dari Afsel) dengan bangunan epistemologinya tafsir hermeneutik Al-Quran. Teologi ini berangkat dari setting umat Islam Afsel yang tertindas, ingin mengadakan gerakan pembebasan mereka dengan menggalang solidaritas antar-iman dengan agama lain (baca teologi inklusif Cak Nur, Sukidi, kompas 2001). Secara tidak langsung, mereka telah menimbulkan benih tiga paham keagamaan kontemporer, pertama pluralisme yaitu paham agama yang menyakini bahwa semua agama itu sama, kebenaran setiap agama itu relatif, sehingga tidak ada klaim kebenaran dalam agama, dan menyakini bahwa semua pemeluk agama akan masuk surga dan hidup berdampingan di surga, kedua liberalisme yaitu paham yang menekankan pada kebebasan individu dalam menjalani hidup dengan berdasakan pada nalar-rasio semata dan pembebasan dari struktur sosial politik yang menindas.dan ketiga sekularisme yaitu paham yang memisahkan antara urusan agama dengan negara, pemisahan antara otoritas duniawi dengan ukhrowi, agama hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur oleh kesepakatan sosial (lihat: Antara Liberalisme dan Fundamentalisme oleh Muladi Mughni).&lt;br /&gt;Di samping itu, gerakan teologi tersebut berdampak pada timbulnya berbagai macam penafsiran teologi Islam terutama di Indonesia –sebagai solusi alternatif dalam menjawab persoalan aktual umat Islam-, setidaknya ada 13 tren gerakan pemikiran, diantaranya Islam Fundamentalis, Islam Teologis—normatif, Islam Eksklusif, Islam Rasional, Islam Transformatif, Islam Aktual, Islam Kontekstual, Islam Esoteris, Islam Tradisional, Islam Modernis, Islam Kultural, Islam Inklusif-Pluralis, Islam Emansipatoris dll. Justru dengan banyaknya penafsiran agama seperti tersebut diatas, bisa mereduksi aspek essensial-values normativitas sebuah agama, mendekonstruksi tatanan agama yang berdampak pada hilangnya identitas sebuah agama (orisinalitas, transendental, sacred, esoteris, universal dll.), menjadi sebuah institusi yang elastis, kanan-kiri ok!, kebenaran relatif, keyakinan yang kabur, humanis (berdasar pada realitas sosial dan keinginan manusia).&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, kalau boleh menyebut dengan istilah "terminologi agama" ataupun "terminologi Islam kontemporer", penyebab utama munculnya keanekaragaman paham keagamaan kontemporer dan terminologi Islam kontemporer tersebut, tidak lain adalah mencari solusi dari kurang berperannya agama dalam menyelesaikan problematika umat, diantaranya timbulnya konflik antar umat beragama, ketertindasan, kemunduran, dsb. Dengan melihat fenomena; Barat (identik dengan Kristen dan Yahudi) mencapai kemajuan dalam berbagai bidang, sedangkan Timur (identik dengan Islam) mengalami kemunduran dan ketertindasan, kalau dikaitkan dengan agama, dapat dianalogikan Barat maju karena meninggalkan agama, karena agamanya mengalami problematis dalam konsep teologis dan penafsiran teks (kitab sucinya), sedangkan umat Islam mundur karena meninggalkan agamanya, bukan Islamnya yang mengalami problem, akan tetapi mayoritas umat Islamnya, disebabkan kurangnya pemahaman Islam itu sendiri, baik dari segi teologi, epistemologi, maupun metafisiknya. Memang tidak dipungkiri, secara historis di internal Islam sendiri, sejak wafatnya khlalifah Ali ra sudah muncul berbagai macam sekte, baik dalam ushul (aqidah) seperti syiah, khawarij, mu'tazilah, ahlus sunnah wal jamaah, dll, maupun dalam furu' (fiqh) seperti al-madzahib al-arba'ah (Syafi'i, Maliki, Hanafi, Hambali). Walaupun demikian, Islam tetap mempunyai landasan teologis yang jelas yaitu Al-Quran dan Al-Hadits. (lih. Tafsir Ibn Katsir, juz II, h. 344-346 Maktabah Syamilah)&lt;br /&gt;Dengan demikian, perlunya reposisi eksistensi agama, setelah mengalami terpaan gelombang globalisasi dengan adanya tren-tren terminologi agama dan teori-teori ilmu pengetahuan dari Barat, maka penulis ingin memberikan sebuah solusi alternatif, dengan mengacu pada faktor-faktor penyebabnya, terutama dalam konteks agama Islam, setidaknya ada 5 point : pertama; pemahaman dan kesadaran individu setiap pemeluk agama akan hakekat ajaran masing-masing, dengan merujuk kepada original sources, kalau umat Islam kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadits dengan mengkaji kutub al-turast, baik tafsir, hadits maupun tarikh. Kedua; pemahaman sosio-historis masyarakat dengan tetap mengacu pada sumber aslinya, melalui instrumen yang syar'i yaitu ijtihad, dengan mengedepankan dalil naqli daripada 'aqli dan tidak berijtihad dalam hal-hal yang sudah mapan, seperti ushul (aqidah), dengan tujuan dekonstruksi. Ketiga; aplikasi dari nilai-nilai ajaran normativitas agama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga agama dengan values dan esensinya tidak sekedar menjadi wacana dialektika dan propaganda, akan tetap menjadi realitas kehidupan masyarakat yang menjiwainya. Keempat; adanya saling memahami antar umat beragama (toleransi) pada tataran horisontal, tidak masuk wilayah teologis. (lihat:tafsir Ibn Katsir, juz 8 hal.507). kelima; memfilter hegemoni paradigma berpikir orientalisme maupun kerangka teori-teori ilmu pengetahuan sosial Barat, yang kebanyakan mengambil sampel konsep mengatasi problematika barat dengan kristennya, yang sangat bertentangan dengan epistemologi agama untuk diterapkan dalam paradigma berpikir Islam.&lt;br /&gt;Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa dilema yang melanda eksistensi agama berangkat dari penafsiran dan pemahaman agama yang salah, clash antara doktrin agama dengan realitas sosial, menimbulkan agama-agama baru tanpa Tuhan. Tuhannya tidak lain adalah Tuhan realitas, perasaan, filosof, Tuhan agama-agama, yang bersifat relatif, dsb, yang semuanya itu hanya berdasarkan pada rasionalitas dan realitas sosial masyarakat belaka. Memaknai dan menafsir agama tidak perlu membentuk agama baru yang tidak jelas konsep teologinya, cukup dengan mereposisikan Islam sebagai agama pelopor dan penyempurna dari semua agama yang ada, tidak mencampur antara yang haq dengan yang batil, dengan segala konsep Islam yang komprehensif dan universal, yang tentang berpegang teguh pada Al-Quran dan Al-Hadits. (sholihun fi kulli zamanin wa makanin). Wallahu a'lam bish-showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan&lt;br /&gt;Al-Quran al-Karim&lt;br /&gt;Tafsir Ibnu Katsir&lt;br /&gt;Majalah Islami Thn I No 4 Januari-Maret 2005, Pluralisme Agama, dari Globalisasi ke Global Theology&lt;br /&gt;Majalah Islami Vol. I No 1 2006, Kerancuan Orientalis dalam Kajian Islam&lt;br /&gt;Taufik As-samalutiy, Muhammad, Nabil, Ad-Diin wal bina' al-ijtima'I, Juz II, 1981, Daarus Syarq Jedah&lt;br /&gt;Hasan, Khalifah, Muhammad, Tarikhul Adyan, 1996, Kuliyah Adab, Jami'ah Qohiroh&lt;br /&gt;Mughni, Muladi, Antara Liberalisme dan Fundamentalisme&lt;br /&gt;Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, cet. II 2001, Kompas Jakarta&lt;br /&gt;Amstrong, karen, A History of God, A Mandarin Paperback, London 1993&lt;br /&gt;Seth D. Kunin, Religion; The Modern Theories, Edinburgh University press,UK 2003&lt;br /&gt;Abdullah, Sutrisno, Agama, Perubahan Sosial dan Sublimasi Identitas, Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.2, Juni 2003 International Institute of Islamic Thought Indonesia&lt;br /&gt;Verdiansyah, Very, Islam Emansipatoris, Menafsir Agama untuk Praksis Pembebasan, Cet. II, P3M Jakarta 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Artikel ini pernah dimuat di buletin FKIQ (Forum Kajian Islam Al-Qolam) Pakistan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-2033535523930097227?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/2033535523930097227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=2033535523930097227&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/2033535523930097227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/2033535523930097227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/03/menafsir-agama-antara-tekstual-dan.html' title='Menafsir Agama, Antara Tekstual Dan Kontekstual*'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7358162931740909181.post-6350602529958104623</id><published>2008-03-19T11:59:00.000+05:00</published><updated>2008-03-21T23:40:42.105+05:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Beda Yes, konflik No!*</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R-ElCiL5UoI/AAAAAAAAABQ/-bFN1c2QViU/s1600-h/DSC02401.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179461771919446658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R-ElCiL5UoI/AAAAAAAAABQ/-bFN1c2QViU/s200/DSC02401.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : M. Ihsanuddin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perbedaan merupakan suatu bagian dari keindahan, yang terselip dibaliknya sebuah hikmah. Sebagaimana Aa' Gym mengibaratkan perbedaan dengan sebuah taman bunga, semakin banyak warna-warni bunganya, semakin indah taman bunga itu. Demikian juga dengan realitas yang ada di alam ini, dengan adanya keanekaragaman maka timbullah persaingan, pergerakan, asimilasi, akulturasi, yang mana itu semua pada satu sisi akan membawa suatu kemajuan, dan di sisi lain bisa menimbulkan konflik diantara mereka, untuk membela dan memperebutkan apa yang mereka ingin capai. Sekarang bagaimana mengemas sebuah perbedaan dan keanekaragaman budaya, ras, suku, agama, pada sebuah bingkai yang indah, interes, cool, tidak menakutkan, tidak menimbulkan konflik, sehingga terbentuk sebuah komunitas masyarakat heterogen yang hidup berdampingan, aman, damai dan tenteram?&lt;br /&gt;Kalau kita lihat dalam konteks ke-Indonesiaan, kata perbedaan sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita, mulai dari anak-anak SD sampai mahasiswa perguruan tinggi sudah dicekoki dengan sebuah arti perbedaan itu sendiri, yang diambil dari semboyan bangsa Indonesia "Bhineka Tunggal Ika". Semboyan itu lahir dari sebuah realitas yang ada, sejak nenek moyang pendahulu dan pencetus bangsa, hingga masih eksis sampai sekarang, dan itu merupakan suatu proses pembelajaran terhadap kedewasaan dan pemahaman bangsa kita sendiri. Sudah sepatutnyalah semboyan itu telah mendarah daging bagi bangsa Indonesia. Semboyan tersebut merupakan suatu pengejewantahan (perwujudan) dari sebuah keanekaragaman (kebhinnekaan) yang terdiri dari multidimensi, multietnis, multicultural, dan multireligius.&lt;br /&gt;Kebhinnekaan dalam arti keanekaragaman budaya, suku, ras, agama, bahasa merupakan identitas bangsa Indonesia, dari situ tercetus sebuah persatuan dan kesatuan bangsa. Di lain pihak, kebhinekaan juga bisa berimplikasi terhadap timbulnya disintegrasi suatu bangsa, kalau misalkan tidak diiringi dengan pemahaman dan pembelajaran akan arti sebuah semboyan dan landasan ideology bangsa Indonesia. Maka diperlukan pranata-pranata social yang bisa diterima dan dipahami oleh semua unsure yang ada.&lt;br /&gt;Banyaknya konflik berdarah terutama yang menyangkut masalah suku, agama, ras telah terjadi beberapa tahun yang lalu di Indonesia, diantaranya di Poso, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, itu sudah menandakan bahwa masyarakat yang bercorak "masyarakat heterogen dan majemuk" (plural society) rawan akan timbulnya konflik antar suku dan agama. Konflik tersebut tidak akan terjadi dengan sendirinya tanpa dipicu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan beberapa hal yang mempengaruhinya, diantaranya, pertama, rendahnya pemahaman masyarakat akan arti "Bhineka Tunggal Ika". kedua, kurangnya pemahaman agama yang dianutnya, karena tiap agama tidak ada yang menyuruh untuk berbuat anarkhis kepada agama lain sehingga menimbulkan konflik. Ketiga, jumlah komunitas yang ada, baik itu menyangkut agama maupun suku. Keempat, tingkat pendidikan masyarakat tersebut, semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas tersebut, semakin rendah temperamen timbulnya konflik, demikian juga sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan mereka, maka peluang terjadinya konflik semakin besar.&lt;br /&gt;Sebenarnya masyarakat Indonesia yang multukulturalis ini telah disetting sedemikian rupa oleh para pendahulu bangsa ini, dengan undang-undang, peraturan-peraturan, baik tertulis seperti Pancasila, UUD '45, maupun tidak tertulis seperti pranata-pranata social dan peraturan-peraturan adat yang ada. Namun demikian, dengan lajunya perkembangan zaman, berdampak pada perubahan budaya, pola pikir, adat, yang bisa mereduksi pemahaman dan ketaatan pada suatu agama yang dianut dan ideology bangsa serta undang-undang yang berlaku.&lt;br /&gt;Setingan bangsa Indonesia oleh para pendahulu bangsa dengan ideology pancasila dan UUD 1945 itu merupakan setingan yang dianggap paling ideal, dengan acuan keanekaragaman (kebhinekaan bangsa), ideology itu dijadikan landasan dalam segala aspek dalam kehidupan bangsa. Dalam aspek agama, adanya lima agama di Indonesia maka yang harus dikedepankan adalah rasa tasamuh (toleran) diantara penganut agama, tidak menonjolkan salah satu agama, tapi tetap sesuai dengan dasar-dasar agama, terutama agama Islam, selain itu bertujuan untuk tidak menimbulkan gejolak di komunitas masyarakat yang disitu terdapat agama minoritas dan mayoritas, sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan saling memahami untuk menekan terjadinya konflik. Aspek hukum, hukum di Indonesia tidak berdasarkan pada salah satu ajaran agama tertentu, tapi berdasarkan pada ideologi bangsa. Acuan hukum tersebut adalah pluralitas bangsa indonesia itu sendiri, bisa diterima oleh semua unsure. Sedangkan dari aspek politik, Indonesia tidak menganut system politik Islam, tetapi system politik yang diterapkan adalah system demokrasi pancasila. Kedaulatan di tangan rakyat. Segala UU dan PP yang merumuskan rakyat sendiri, melalui para wakilnya yang duduk di DPR dan MPR. Demikian juga presiden, para anggota DPR dan MPR yang memilih rakyat sendiri, jadi bisa dikatakan meraka itu merupakan wajah dari Bangsa Indonesia. Demikian juga sistem ekonominya, tidak berafiliasi pada sistem ekonomi Islam, juga tidak menganut sistem ekonomi liberal maupun kapitalis, tetapi yang diterapkan adalah sistem ekonomi pancasila.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, Indonesia belum bisa dikatakan 100 % negara multikultural yang kadar toleransi umat beragamanya sangat tinggi, berdasarkan hasil survey LSI (Lembaga Survey Nasional) terbaru yang dilaksanakan pada awal tahun 2006 di 33 provinsi, tentang kadar toleransi antar umat beragama di Indonesia, menunjukkan bahwa mereka cukup toleran dalam masalah sosial. Misalnya, mereka disebutkan tidak keberatan hidup bertetangga dengan orang yang berbeda agama. Tapi sikap toleran itu berkurang, terutama dikalangan umat Islam, apabila memasuki wilayah teologis dan politik, seperti soal pembangunan tempat ibadah. Dinyatakan bahwa sekitar 42 persen orang Islam di Indonesia keberatan apabila penganut agama lain mendirikan tempat ibadah di lingkungannya. Adapun komentar para tokoh ormas Islam baik NU maupun Muhammadiyah, menuntut pemerintah untuk melakukan pendekatan psikologi keagamaan pada masalah ini, dan merevisi atau mengkaji ulang Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama tentang pembangunan rumah ibadah, karena terkesan menganaktirikan agama diluar Islam dan semangat revisi jangan hanya untuk kelompok agama tertentu.&lt;br /&gt;Demikian juga dalam aspek politik, sistem demokrasi di Indonesia belum 100 % bisa terkonsolidasi, menurut LSI, sebanyak 72 % warga mendukung sistem demokrasi yang ada, tapi itu belum mencapai titik aman untuk menunjukkan suatu keberhasilan, biar bisa dikatakan terkonsolidsi minimal 84 % warga mendukungnya, sebagaimana di Jerman, mencapai 93 % dukungan terhadap demokrasi. Disamping itu, masih besarnya dukungan publik terhadap keterlibatan tentara dalam politik juga menjadi indikator belum kuatnya demokrasi di negara Indonesia, tercatat pada tahun 2005 mencapai 25 % dan tahun 2006 meningkat menjadi 36 %, sehingga membuat Indonesia rentan terhadap kemungkinan kudeta oleh tentara. Selain itu, rendahnya keterikatan masyarakat dengan parpol, sebagaimana hasil survey LSI menunjukkan hanya 26 % masyarakat yang punya perasaan terikat dan kedekatan dengan parpol. Dalam negara demokrasi ini sangat berbahaya, karena parpol merupakan saluran politik untuk mengartikulasikan aspirasi dan keinginan masyarakat. Yang menarik lagi, mereka itu masyarakat yang tidak terpelajar, adanya keterikatan karena fanatisme belaka, maka tidak bisa bersikap kritis. Untuk mencapai demokrasi yang berprospek, diperlukan msyarakat yang terpelajar dan berpendidikan dan bersikap kritis.&lt;br /&gt;Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa eksistensi negara Indonesia yang multikultural, religius, dan suku, yang terhimpun dalam suatu semboyan "Bhineka Tunggal Ika" masih belum mencapai pada tahap dan tatanan yang diharapkan, dalam segala aspek, baik aspek teologi, politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya. Sehingga diharapkan kedepannya, perlu adanya pembenaahan, revisi dan kajian ulang terhadap kebijakan-kebijakan yang berlaku sekarang dalam segala aspek tersebut, yang disoundingkan melalui para wakil rakyat, untuk mewujudkan tujuan utama yang ingin dicapai bangsa, diantaranya tidak adanya konflik yang menyangkut sara, walaupun sudah tereliminer beberapa konflik yang sudah terjadi. Maka nantinya terwujud masyarakat yang damai, adil dan makmur diridlai Allah SWT "Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur" , amiin. Wallahua'lam bish-showaab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Artikel ini pernah dimuat di buletin FKIQ (Forum Kajian Islam Al-Qolam) Pakistan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7358162931740909181-6350602529958104623?l=jazaulihsan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/feeds/6350602529958104623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7358162931740909181&amp;postID=6350602529958104623&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/6350602529958104623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7358162931740909181/posts/default/6350602529958104623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jazaulihsan.blogspot.com/2008/03/beda-yes-konflik-no.html' title='Beda Yes, konflik No!*'/><author><name>M.Ihsanuddin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08982310527171036304</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_pIyJufbkGpk/R-DppaAugkI/AAAAAAAAAAo/AzainZZLO_U/S220/DSC03719.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pIyJufbkGpk/R-ElCiL5UoI/AAAAAAAAABQ/-bFN1c2QViU/s72-c/DSC02401.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
